Sabtu, 18 November 2017

Nasi Goreng a la Chef Tazki

Sudah dua hari ini hujan mengguyur Kota Semarang dengan derasnya dan bersyukur sekali udara menjadi lebih sejuk walaupun membuat saya akhirnya malas bergerak dan beranjak dari kamar. Ditambah kondisi badan yang kurang fit membuat saya malas untuk memasak. Rasanya ingin merebahkan diri saja di atas tempat tidur sepanjang hari. Untungnya saya selalu menyediakan frozen food bilamana saya tidak sempat memasak maka tidak perlu khawatir karena lauk pauk untuk makan sudah tersedia di dalam freezer hanya tinggal menggoreng atau menghangatkannya saja. Malam harinya ketika waktunya makan malam ternyata Tazki menyampaikan keluhannya bahwa ia bosan makan makanan froozen  lagi sehingga dia berinisiatif untuk membuat nasi goreng dengan resep sendiri dan tanpa dibantu oleh kami orangtuanya.

Saya sendiri tidak terlalu percaya diri dalam membuat nasi goreng dikarenakan menurut lidah saya sendiri, nasi goreng buatan saya tidak terlalu enak dan entah kenapa dalam membuat sambel pun selalu kurang nendang gitu rasanya. Makanya saya sangat jarang membuat olahan nasi goreng maupun sambel. Ketika saya ingin makan nasi goreng pun biasanya suami yang turun tangan untuk membuatkan. Dari awal saya mencoba nasi goreng buatannya sudah cocok di lidah saya dan anak kami. Jadi bila ditanya makanan favorit kami apa? Ya, salah satunya adalah nasi goreng buatan Ayah Lukman.

Kembali lagi ke momen Tazki mengolah nasi gorengnya sendiri, saya pun tidak berusaha memberi tahu apalagi memandunya. Entah bumbu apa saja yang ia masukkan dan campurkan ke dalam masakan nasi gorengnya namun dari kamar pun tercium aroma wangi masakannya. Setelah hampir setengah jam menunggunya memasak, akhirnya saya bisa mencoba nasi goreng a la Tazkiya yang sangat fenomenal. Ternyata sungguh diluar dugaan rasanya sangat enak sekali dengan bumbu yang sepertinya tidak lazim digunakan dalam membuat nasi goreng kebanyakan. Dia pun mengungkapkan bahwa nasi gorengnya tidak diberi garam jadi rasa asin di dapat dari kecap asin. Kemudian dia penasaran dengan kecap inggris seperti apa rasanya lalu eksperimen juga menambahkan kecap inggris ke dalam nasi gorengnya dan diberi sedikit saos tiram. Memang rasanya sedikit aneh karena banyak item bumbu yang ditambahkan, tapi sejauh ini rasanya enak dan bikin saya tambah lagi lho hehehe...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Mengatasi Sprei Yang Kebesaran

Bulan Oktober kemarin saya mendapatkan hadiah sprei dengan motif shabby dari suami saya, kebetulan ketika sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan beliau tidak sengaja melihat-lihat ke bagian perlengkapan kamar dan salah satu raknya memajang banyak sekali sprei dari berbagi motif juga merk. Karena beliau mengetahui saya penggemar shabby  dan ternyata ada sprei motif shabby  di dalamnya maka beliau berinisiatif untuk membelikannya. Namun sayang ukurannya terlalu besar untuk tempat tidur kami yang berukuran 160x200 cm sedangkan sprei tersebut berukuran 200x200 cm. Alhasil kebesaran dan sangat sulit rapi ketika akan dibereskan di keesokan hari. Saya pun beberapa kali mengeluh dengan sprei yg kebesaran tersebut karena ketika dibereskan dan dirapikan ternyata sprei tidak kencang malah banyak lipatan di bagian tengah dan pinggirnya akibat kebesaran.
Nah, karena beberapa hari ini saya agak malas merapikan tempat tidur akhirnya suami saya yang terkadang menggantikan tugas saya sementara untuk merapikan tempat tidur. Entah bagaimana anak kami bisa tahu bahwa sprei ini sering saya keluhkan. Tiba-tiba di suatu pagi ia langsung masuk ke kamar kami dan membuka sprei dan mengutak-atiknya. Saya hanya memperhatikan saja dari balik pintu kamar karena saya sedang sibuk saat itu mengerjakan pesanan yoghurt yang akan diambil sore nanti. Tiba-tiba Tazki berteriak memanggil saya unuk melihat ke dalam kamar saya. Tak disangka ternyata tempat tidur kami rapi dan spreinya pun kencang serta tidak terlihat banyak lipatan di bagian pinggir-pinggirnya.

Saya pun penasaran mengapa bisa rapi seperti itu, Kak? Ternyata sprei yang ada jahitan karet dipinggir-pinggirnya dia pasang di bagian kasur yang lebih panjang di kedua sisi sampingnya sehingga yang tidak dijahit karet dipasang di sisi pendeknya kasur yang mana membuat kasur menjadi rapi dan mudah untuk diatur. Wah, langsung deh saya speechless tidak menyangka anak sekecil ini bisa memiliki ide yang wow. Saya sebagai orang dewasa saja malah tidak terpikir cara seperti itu. Terima kasih ya Kak dengan ide cemerlangnya...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Make Over Buku Agenda Jadul

Belum lama ini Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang mewajibkan semua kordinator dan jajaran pengurus kota untuk wajib mengikuti kelas Public Speaking yang dilaksanakan setiap Hari Sabtu pukul 10.00 - 12.00 WIB yang difasilitatori oleh Mbak Indah Laras. Kebetulan beliau sudah belasan tahun bergelut di bidang penyiaran dimana banyak sekali pengalaman dan jam terbang yang telah dilewati oleh beliau sehingga pantas kiranya beliau diberikan amanah untuk berbagi dan mengajarkan sedikit ilmunya kepada rekan-rekan koordinator IIP Semarang. Sebenarnya bukan tanpa sebab kelas Public Speaking ini diadakan, karena ada tawaran dari pihak radio dan televisi lokal Kota Semarang yang menawarkan untuk disediakan jadwal rutin dan khusus bagi IIP Semarang untuk mensosialisasikan mengenai komunitas ini sehingga diharapkan banyak para wanita baik yang belum menikah, calon ibu, bahkan yang sudah menjadi ibu bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan komunitas Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang ini. Alhamdulillah, karena ini merupakan suatu tawaran yang baik untuk komunitas ke depannya sehingga diharapkan banyak para wanita yang bisa ikut bergabung di IIP Semarang ini.

Seperti biasa kemana saja saya pergi pastilah anak semata wayang kami selalu saya ajak ikut serta menemani hari-hari saya beraktivitas. Seperti halnya hari ini anak kami pun saya ajak mengikuti kelas Public Speaking ini, walaupun ketika sampai tempat acara ia lebih tertarik untuk menggambar, bermain bersama teman-teman lainnya, dan juga asyik menonton tayangan Five Minute Creatives  di Instagram saya. Memang sedari usianya menginjak 6 tahun Tazki lebih tertarik dengan aktivitas crafting apalagi bila membuat aneka Do It Yourself (DIY). Yang mana dia lebih senang memanfaatkan barang-barang bekas untuk dimanfaatkan dan digunakan kembali. Layaknya kita menerima materi, hal yang biasa saya lakukan adalah mencatat setiap materi yang disampaikan oleh narasumber tersebut di buku agenda saya. Dan sudah beberapa kali saya dimintai Tazki untuk bersedia membelikannya buku agenda yang memiliki gembok seperti diary  jaman saya kecil dulu sangat familiar sekali dengan agenda tersebut karena hampir semua teman-teman saya memilikinya. Namun selalu tidak saya luluskan keinginannya mengingat melihatnya yang jarang dan malas jika disuruh menulis. Maka, saya pun berpikir untuk apa saya membelikannya bila nanti malah mubadzir.

Sepulang dari saya mengikuti kelas Public Speaking seperti yang sudah-sudah Tazki kembali meminta saya unuk mau membelikannya buku agenda seperti saya. Kemudian saya berikan penjelasan dan pengertian bahwa buku agenda belum terlalu dibutuhkan untuk anak seusianya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menerimanya dan ersikukuh bahwa dirinya saat ini membutuhkan agenda tersebut. Akhirnya saya pun mencari-cari di dalam dus alat-alat tulis suami yang baru saja diangkutnya dari kantor yang lama dan Alhamdulillah senang sekali akhirnya saya menemukan buku agenda yang tidak terpakai namun masih belum ditulis apa-apa. Sepertinya juga ini adalah buku agenda baru karena masih dalam bungkusan plastik dan saya pun menawarkannya kepada Tazki. Responnya dia tidak suka dengan motifnya yang dia bilang bahwa motif agendanya seperti untuk orangtua dan dia pun menolaknya. Akhirnya saya merayunya hingga akhirnya dia berkenaan untuk memakainya sebagi buku agendanya. Sebenarnya yang dia inginkan adalah buku agenda yang memiliki kancing dan tempat untuk menyelipkan pulpen persis seperti yang saya miliki.

Setelah saya berikan agendanya itu kemudian dia langsung dengan cekatan meminta ijin pada saya untuk meminjam alat jahit dan sebuah kancing yang saya belum sadar mau dijadikan apa kancing tersebut. Setelah satu jam lebih dia mengurung diri di kamar, akhirnya dia memberikn saya kejutan berupa buku agendanya dia tambahkan kancing pengait seperti buku agenda yang saya miliki. Terlihat kegembiraan dan binar mata yang memancar penuh semangat dalam tatapannya kepada saya ketika menyodorkan buku agendanya yang telah dia sulap menjadi apa yang dia inginkan. Senang sekali rasanya dia bisa menemukan solusinya sendiri dengan tidak memaksa saya untuk memenuhi keinginannya. Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu melimpahkan ide-ide dan gagasan yang bermanfaat bagi dirimu dan banyak orang. Aamiin...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Let's Be Creative...

Kira-kira apa yang harus kita lakukan supaya kreatifitas itu bisa muncul dalam diri kita?

Benarkah kebanyakan anak-anak hilang kreatifitasnya disebabkan oleh faktor campur tangan orangtuanya?

Dua pertanyaan tersebut saja sudah berputar-putar di otak saya selama saya membaca hasil diskusi Kelas Bunda Sayang yang dipandu oleh Ibu Septi sebagai fasilitator kami selama menjalani perkuliahan hingga 12 bulan ke depan. Ada beberapa artikel dan slide show yang diposting di grup oleh beliau mengenai kreatifitas pada anak ini. Dalam artikel tersebut menyebutkan salah satunya orangtua dan sekolah formal sebagai faktor yang mematikan kreatifitas anak-anak. Saya pun merasa jleb setelah membaca artikel tersebut, karena merasa apa yang dipaparkan benar adanya selama ini. Teringat oleh saya perihal batasan-batasan dan feedback negatif yang kadang sering saya ucapkan pada anak kami ketika ia sedang mencoba sesuatu hal yang belum pernah dia coba sebelumnya. Atau ketika anak-anak mengerjakan tugas hariannya dengan diselingi beberapa inovasi yang tidak sesuai dengan cara-cara sebelumnya, pasti saya langsung cut dan melakukan interupsi. Dan seharusnya itu tidak perlu saya lakukan karena hal-hal seperti itu jelas-jelas mematikan jiwa kreatifitasnya secara perlahan dan pasti. Untuk itu saya sadar dan harus segera berubah supaya anak-anak memiliki jiwa yang merdeka dalam berpikir, bertindak, dan berkarya tanpa harus takut untuk gagal. Oke, mulai saat ini saya harus berjanji pada diri saya sendiri untuk stop mengintervensi dalam bentuk apapun selama apa yang dilakukan anak-anak masih aman dan on the track. Karena anak sudah lahir kreatif maka kita sebagai orangtua yang harus belajar kreatif, maka cara pertama yang harus dilakukan adalah ubah fokus dan geser sudut pandang. Bismillah...

Kemudian saya segera mengadakan forum keluarga untuk menyampaikan materi yang telah saya dapatkan dan meminta seluruh anggota keluarga untuk memberikan respon mengenai materi tentang mengembangkan kreatifitas ini. Dan hasilnya adalah anak kami pun mengalirkan rasa mengenai apa yang menjadi ketidaksukaannya kepada saya ketika dirinya sedang ingin berkarya dan mencoba-coba sesuatu. Dan saya pun meyadari kekeliruan saya selama ini dan meminta maaf karena dahulu saya belum tahu ilmunya sehingga banyak hal yang tidak seharusnya saya lakukan malah dilakukan dengan sadar kepada anak-anak. Namun, Alhamdulillah anak kami pun menerima permintaan maaf dari kami orangtuanya dan mulai mengeluarkan ide dan gagasan yang ada dalam pikirannya. Kami pun serius memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, ternyata keren-keren juga idenya untuk anak yang sebulan lagi akan menginjak usia 9 tahun. Tidak menyangka besar sekali mimpi-mimpinya, ah..Nak, kamu membuat Bunda menjadi malu dan kecil hati. Semoga terkabul apa yang engkau cita-citakan ya, Nak...

Setelah forum keluarga ditutup tiba-tiba anak kami meminta izin untuk mengambil dus bekas yang baru saja dijadikan wadah belanjaan ketika kemarin kami habis berbelanja di supermarket. Saya pun bertanya mau dibuat apa dus tersebut, namun dia tidak menjawab hanya sibuk dan tenggelam bersama alat-alat tulis yang berhamburan di lantai. Sesekali saya menengoknya di dalam kamar untuk tahu apa yang sedang dia kerjakan, namun sayang saya benar-benar tidak punya gambaran sedikitpun dus tersebut akan menjadi apa. Dalam hati saya bergumam, paling juga dus tersebut mau dibuat pigura oleh anak kami. Hampir 3 jam belum juga selesai pekerjaannya namun saya yakin itu adalah sebuah pigura untuk memajang foto. Entah mengapa dia mengambil jeda dan mengeluh bahwa dia tidak bisa membuat bolongan pada dus tersebut sembari sedikit mengeluarkan air mata. Saya tawarkan bantuan namun dia berkata bahwa hanya ayahnya yang bisa. Baiklah, saya mengalah dan mengajaknya istirahat meninggalkan pekerjaannya sejenak. Namun dia tidak mau dan tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya tersebut hingga akhirnya saya tahu bahwa dia sedang membuat replika televisi layar datar hahaha... Padahal saya menyangka itu adalah sebuah pigura foto tapi ternyata dia membuat mainan televisi layar datar karena beberapa pekan lalu kami sekeluarga baru saja menginap di hotel karena sedang melakukan perjalanan keluar kota. Dari situlah anak kami memiliki keinginan ada televisi di kamarnya seperti yang dia lihat di kamar hotel saat itu. 

Akhirnya setelah ayahnya pulang kantor, anak kami meminta bantuan ayahnya untuk membantu menyelesaikan hal-hal yang dia rasa kesulitan untuk dikerjakan sendiri. Dan akhirnya sebelum pukul 21.00 televisi dari kaedus pun sudah terpasang dengan cantik di kamarnya. Senang dan terharu sekali melihat kegigihannya menyelesaikan apa yang dia pikirkan dan inginkan, walaupun ada drama di dalamnya tapi Alhamdulillah dia bisa melewati semuanya. Barakallah, Nak...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Sabtu, 17 Juni 2017

Dengan Membaca Buku Aku Bisa Melihat Dunia

Terkadang saya sebagai orangtua sering dikagetkan dengan pengetahuan yang Kakak ketahui tanpa pernah saya merasa memberitahukannya. Sebenarnya masih dalam tahap pengetahuan yang sederhana sih bukan yang wow begitu. Hanya saja terkadang saya sebagai orangtua merasa surprised ketika tahu bahwa anak saya tahu tentang sesuatu hal. Ternyata tak lain dia tahu itu melalui hasil membaca dari sebuah buku atau malah kadang dia dapatkan itu dari acara youtube. Namun, yang saya akhirnya sepakat adalah bahwa, dengan membaca kita dapat melihat dunia tanpa batas melewati dimensi ruang dan waktu. Dengan membaca kita semakin kaya akan ilmu dan pengetahuan serta wawasan kita semakin berkembang mengikuti apa yang kita pernah baca. Seperti quote yang baru-baru ini saya dapatkan, "you're what you read". Dan sejatinya itu benar adanya bahwa kita adalah menjadi apa yang kita baca, sehingga bila ingin mengetahui wawasan seseorang salah satunya adalah dengan menanyakan buku apa yang terakhir dia baca, maka kita pun akan tahu seperti apa wawasan orang tersebut.

Jumat, 16 Juni 2017

Ketika Virus Membaca Menjangkiti Ayah Lukman

Kali ini saya akan menuliskan pengalaman membaca yang dilakukan oleh suami saya. Membaca adalah momok menakutkan dan sangat dihindari sekali oleh suami saya sedari kecil hingga saat ini. Ketika ditanya alasannya mengapa tidak senang membaca? Beliau menjawab bahwa membaca membuatnya merasa mengantuk dan sepanjang hidup hanya kuat membaca maksimal 10 halaman tidak lebih. Padahal menurut saya membaca itu mengasyikan asalkan kita memilih buku yang sesuai dengan minat kita sendiri sehingga akan terasa menyenangkan menghabiskan waktu dengan melahap halaman demi halaman hingga tanpa terasa buku pun khatam dibaca.

Nah, dimulai tadi sore sepulang kantor tiba-tiba suami menghampiri saya dan meminta tolong agar saya bersedia mengirimkannya e-book Fitrah Based Education (FBE) karangan Ustadz Harry Santosa salah satu founder komunitas Home Education based on Akhlaq and Tallents (HEbAT). Saya pun kemudian mengirimkan e-book tersebut kepada suami saya dan tidak memiliki harapan apakah akan dibaca atau tidak karena memang saya sudah tahu bahwa suami saya tipikal yang sangat malas untuk membaca buku. Untungnya beliau masih bisa tahan jika membaca sebuah artikel atau resume asalkan bukan buku yang memiliki puluhan bahkan ratusan halaman. Ternyata tanpa saya sadari suami saya embaca dengan khusyuk e-book tersebut hingga beberapa lembar dia baca. Spontan membuat saya kaget dan bertanya-tanya, "Yah, kok tumben serius bacanya?" tanya saya. Beliau pun menjawab bahwa dirinya merasa butuh dengan ilmu mengenai Home Education (HE) secara lebih mendalam lagi karena kita butuh ilmu ini.

Ternyata memang benar bahwa jika seseorang merasa butuh akan sesuatu maka dengan otomatis akan mencari tahu mengenai keingintahuanny tersebut. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah memfasilitasi bahan bacaan di rumah dan uga memberikan contoh nyata bahwa memang kita pun senang dengan aktivitas membaca tersebut. Barangkali anak dan pasangan kita tergerak ingin mengikuti kebiasaan baik kita ini. Selamat membaca...