Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2017

Belajar Sambil Mengajar, Karena Setiap Kita Adalah Guru Bagi Dirinya Sendiri...

Awal mula saya mengajukan diri untuk menjadi fasilitator matrikulasi saat itu adalah karena saya menyadari bahwa dalam waktu sembilan pekan mengikuti materi matrikulasi dan juga ditambah mengerjakan Nice Home Work (NHW). Ada perasaan yang cukup mengganggu saya saat itu, yakni saya merasa ilmu yang saya dapatkan selama sembilan pekan itu belum bisa saya pahami dengan sebenar-benarnya. Saya butuh mencerna itu secara perlahan dan juga butuh teman yang sama-sama belajar dan melakukan perubahan. Maka ketika ada pembukaan fasilitator matrikulasi pun akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan diri yang mana saya sebetulnya ingin mengulang materi kembali bersama teman-teman yang saya fasilitatori. Pengalaman saya ketika membersamai teman-teman yang saya fasilitatori ternyata saya pun perlahan mengerti dan paham dengan materi yang sebelumnya saya sendiri pun merasa bingung. Dari pengalaman inilah saya menyimpulkan bahwa kita akan lebih memahami suatu ilmu jika kita mengajarkan kembali kepada orang lain. Karena dengan mengajar sesungguhnya kita sedang mengeluarkan segala daya dan upaya yang kita miliki untuk memberikan pengajaran kepada orang lain alih-alih sebenarnya kita sedang mengajar dan melakukan perubahan pada diri kita.

Saat ini saya sedang mengampu sebagai fasilitator perkuliahan Bunda Sayang di Kelas Karawang Bekasi pada caturwulan kedua ini. Menurut cerita dari salah satu pengurus kelas mengatakan bahwa pada awalnya jumlah peserta itu lumayan banyak, namun ketika memasuki caturwulan kedua ini para pengurus kelas melakukan perampingan jumlah peserta dikarenakan banyak peserta yang cuti, silent reader, tidak mengerjakan tugas dengan lengkap, dsb. Hingga pada saat pertama kali saya masuk ke kelas tersebut, ketua kelasnya melaporkan bahwa total peserta di kelas tersebut berjumlah sekitar 35 orang. Ketika pertama kali mensosialisasikan Code of Conduct (CoC) mengenai keaktifan di kelas, banyak respon dari hampir seluruh peserta dari yang aktif hingga yang silent reader pun mulai bersahutan dan menyemarakkan kelas. Dalam pekan pertama hingga memasuki pekan ketiga kelas masih cukup ramai namun mulai berkurang para peserta yang aktif berkomentar maupun yang berbagi cerita. Apalagi setelah review materi hingga aliran rasa pun kelas cenderung tidak seaktif dan seramai ketika pekan pertama. Yang muncul berkomentar pun orang-orang yang sama aktif di awal saya masuk kelas baru ini. Perangkat kelasnya pun kooperatif dan siap sedia jika waktunya diskusi, Senin Semangat, dan Jum'at Hangat beberapa dari mereka ikut meramaikan. Sejauh ini yang biasanya silent reader pun sudah mulai unjuk gigi ikut berkomentar dan menyuarakan buah pikirannya. Adapun yang masih belum bisa bergabung ketika diskusi biasanya ada beberapa yang menghubungi saya untuk meminta izin dan menyampaikan alasannya. Penilaian saya untuk keaktifan kelas bisa dikatakan cukup baik. Oya, mungkin juga ada pengaruh ketua kelas pada caturwulan pertama ini kebetulan mengundurkan diri dari tugasnya dikarenakan ada permasalahan yang urgent dan membutuhkan perhatian lebih dari beliau. Nah, saya sempat merasakan kelas dikoordinatori oleh beliau dan memang lebih ramai serta banyak diskusi diluar materi pada bulan itu. Kebetulan ketua kelasnya memang dituakan oleh teman-temannya ditambah pendidikan beliau juga adalah psikolog sehingga banyak teman-teman yang terbantu dengan saran-saran yang diberikan oleh beliau.

Catatan saya mengenai koordinator bulanan pun sejauh ini tidak ada masalah yang berarti, mereka sudah paham mengenai tata cara google form dan teknis lainnya. Karena ada dua koordinator bulanan yang mengundurkan diri karena cuti, maka kami pun mengadakan open recruitment untuk mengisi posisi yang kosong tersebut. Sehingga akhirnya diputuskan akan diadakan kembali pembekalan tutorial google form dan hal-hal yang berkaitan dengan teknis di kelas. Ketua kelas berinisiatif untuk meminta bantuan Rumah Belajar IT IIP kotanya untuk bersedia mengisi pelatihan ini via online di Whatsaap grup perangkat kelas. Pencatatan dan segala yang berhubungan dengan administrasi pun sangat rapih. Saya sangat berkesan sekali dalam hal ini.

Kemudian untuk tugas-tugas yang dikerjakan oleh peserta saya baca dan ada beberapa tugas yang memang mengerjakannya ala kadarnya saja. Sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja sehingga tugas yang diposting pun hanya berupa foto judul buku dan bab yang dibaca tanpa ada penjelasan beberapa kalimat ataupun paragraf yang menyertai di dalamnya. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa orang yang memang bersungguh-sungguh mengerjakannya dan sangat inspiratif sekali pengalaman yang mereka tuangkan dalam tugasnya tersebut. Ini yang memang harus saya sampaikan dan koreksi kepada para peserta di kelas bagaimana sih sebaiknya tata cara pembuatan tugas itu. Artinya saya punya PR besar disini untuk membuat para peserta perkuliahan ini betul-betul ada rasa tanggung jawab moral ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Untuk itu saya masih memiliki waktu sekitar tiga bulan ke depan selama mengampu kelas ini agar membuat atmosfir kelas lebih menyenangkan dan semarak lagi agar semangat mereka tetap terjaga. Rencananya dalam waktu dekat ini sekitar tanggal 24 Desember 2017 para peserta Kelas Bunda Sayang Karawang Bekasi ini akan mengadakan kopdar dan mengundang fasilitator caturwulan pertamanya yaitu Miss Yuli dan saya sebagai fasilitator caturwulan kedua ini. Saya berharap semoga dengan diadakannya pertemuan ini akan mempererat bonding antar sesama peserta sehingga tidak ada lagi yang namanya silent reader karena merasa sungkan ataupun malu untuk bertanya dan berkomentar di grup. Hal yang berkesan adalah banyak orang-orang hebat dan menginspirasi yang ada di kelas ini namun kebanyakan dari mereka tidak terlalu mencolok dan menampilkan dirinya. Padahal secara pengalaman mereka sudah sangat kompeten di bidang yang mereka geluti saat ini.
"Pada titik ini saya pun akhirnya menyadari bahwa setiap kita adalah guru bagi dirinya sendiri dan juga bagi yang lainnya".
Sekian jurnal fasilitator yang dapat saya rangkum dan sampaikan selama saya berinteraksi dan mengobservasi kelas selama hampir dua bulan ini. Mohon maaf bila ada kata-kata dan penilaian saya yang menyinggung pihak lain, karena ini murni tidak ada niatan apapun. Semoga bisa diambil pengalaman dan manfaatnya. Terima kasih...

Sabtu, 18 November 2017

Bikin Tahu Bulat

Siapa yang belum tahu apa itu tahu bulat?
Tahu tidak bagaimana membuatnya? Soalnya kami penasaran kenapa tahu bulat bisa mengembang besar begitu ketika di goreng. Akhirnya bersama Tazki saya pun berselancar di dunia maya untuk mengetahui cara membuat tahu bulat itu seperti apa. Kami menemukan resep tahu bulat tersebut di www.cookpad.com dan segera kami mengeksekusinya. Lumayan juga yang menguras tenaga adalah ketika kita memeras tahu putih yang sudah dihancurkan untuk mengeluarkan air yang terkandung di dalamnya hingga sama sekali tahu tersebut tidak mengandung air sedikit pun. Kami membuatnya dalam adonan yang sedikit dahulu supaya bilamana gagal tidak terlalu kecewa karena sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Alhamdulillah setengah hari kita selesai mengeksekusinya karena disambi-sambi juga sih jadi agak lama selesainya. Dan adonan tahu bulat pun digoreng ketika malam hari saat ayahnya Tazsudah pulang kantor. Saat menggoreng beberapa lama kemudian wow tahunya mekar dan mengembang sempurna. Suka sekali akhirnya tidak gagal karena bisa mengembang. lumayan juga satu adonan yang kami buat menghasilkan kurang lebih 25 buah tahu bulat. Lumayanlah untuk mengganjal perut disaat udara sedang dingin-dinginnya seperti sekarang. ditambah dengan segelas teh manis hangat dicampur jeruk nipis cocok sekali menemani malam ini kami mengobrol seru sebelum beranjak tidur. Kali ini Tazki seinya tidak terlalu bersemangat bebikinan mungkin karena sedang merasa tidak enak badan sehingga ia lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktunya membaca buku saja.

Namun, ketika disiapkan tahu bulat bagiannya, buru-buru ia mencari plastik untuk memasukkan sebagian tahu bulatnya ke dalam plastik tersebut. Kemudian ia pun mencampurkan tahu bulatnya dengan bumbu yang biasa digunakan ketika ia memakan kentang goreng. Lalu segera menghampiri saya dan menawarkan tahu bulat berbumbu dengan rasa jagung bakar dan keju. Awalnya saya sempat menolak karena berpikir aneh pasti rasanya, namun ia memaksa saya untuk mencobanya dan wow enak sekali ternyata cila diberi bumbu walaupn tetap saja saya lebih menyukai makan tahu bulat polosan tanpa bumbu apapun. Malam ini ditutup dengan keceriaan dan juga rasa kenyang serta lelah selama seharian berjibaku untuk re-cooked  resep. Alhamdulillah semuanya senang...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

False Cebration

Kali ini saya akan bercerita mengenai kegagalannya Tazki dalam membuat bros handmade. Seperti yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya bahwa dia belum mahir dalam urusan menjahit manual. Nah, kali ini pun dia berencana ingin membuat kreasi bros dari kain perca dengan manik-manik yang seharusnya dijahit. Namun, dia pun memilih alternatif lain dengan menggunakan lem tembak ketimbang dijahit. Pastilah bisa ditebak hasilnya, yang mana menjadi sangat tidak rapi dan banyak noda lem di permukaannya. Sempat mengeluh dan menangis jengkel dikarenakan hasilnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Tapi saya berusaha menenangkannya bahwa wajar sekali jika kita mengalami suatu kegagalan dan itu mengajaekan kita untuk belajar dari kesalahan supaya tidak terulang lagi dan membuat kita dapat mengatur strategi di masa yang akan datang. Tetap saja saya jelaskan panjang lebar pun dia masih berfokus pada hasil crafting yang dirasanya kurang oke. Ya, tidak apa saya membiarkannya menangis dan mengomel karena kesal tidak berjalan seperti yang dia harapkan.

Setelah agak tenang pada malam harinya, kami membuka forum keluarga dan mengapresiasi usahanya serta memberikan support kepadanya agar tidak putus asa dan terus berkarya walaupun dihadang oleh beberapa kali kegagalan. Anggap saja kegagalan tersebut menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berharga kelak di masa yang akan datang. Kita pun merayakan momen false celebration ini agar mengajarkan padanya bahwa kegagalan dalam hidup itu lumrah adanya dan setiap orang pun pasti pernah mengalaminya. Kita rayakan dengan mengungkapkan kekecewaan, mimpi-mimpi, serta rencana apa saja yang akan masing-masing kami kerjakan ke depannya. Kami pun larut dalam momen ini, momen yang kami rasakan sebagai titik balik kami untuk melangkah dengan lebih baik lagi ke depannya.

Ah, ternyata tidak melulu kita mulus dan berhasil dalam mengerjakan tantangan di perkuliahan Bunda Sayang ini. Ada kalanya kita dapat mulus melewati tantangan demi tantangan setiap harinya dan sebaliknya terkadang di hari-hari tertentu tidak berjalan dengan baik dan seharusnya. Tidak mengapa asalkan kita tetap  keep on track saja dan berusaha melakukan semaksimal mungkin yang kita mampu. Dalam momen false celebration ini saya merasa mendapatkan energi yang baru dan juga makin mempererat bonding diantara kami. Semakin mengerti dan memahami harapan dan keinginan satu sama lain. Memang benar, hidup ini harus dimaknai dan dirayakan agar kita dapat meghargai setiap proses dan kehidupan. Keep moving forward!!

Hadiah Untuk Ayah Bunda

Kaget itu waktu kami mau pergi keluar kota tiba-tiba di kaca spion tengah mobil tergantung beberapa kertas berwarna yang seolah-olah seperti hiasan mobil. Kertas lipat berwarna merah dan uning menggantung bebas dan menghiasi interior mobil kami. Sudang pasti siapa lagi yang membuat ini kalau bukan anak semata wayang kami, Tazkiya. Dengan bentuk menyerupai hati dan ice cream gantungan tersebut menggantung bebas di bawah spion tengah ketika mobil kami sedang melaju di jalanan. Saya pun mengucapkan syukur dan terima kasih sekali atas kerja kerasnya membuatkan ini untuk kami berdua. Dia pun bercerita bahwa ingin memberikan kami hadiah namun bingung, hadiah seperti apa yang ayah bunda sukai. Akhirnya punya ide ketika kami beberapa waktu lalu menumpang mobil teman saya ketika akan mendatangi pelatihan keju di Semarang bagian bawah. Nah, dalam mobil teman saya itulah Tazki melihat ada gantungan di bawah spion tengah itu berbentuk botol kaca kecil dan gantungan bertuliskan kalimat tauhid. Kebetulan di mobil kami tidak memiliki hiasan seperti itu, maka dia berinisiatif ingin membuatkannya untuk kami. Wah, perhatian sekali kamu, Nak. Terima kasih ya...

Kadang kita sebagai orang dewasa lebih kalah kreatifnya ya dibandingkan dengan anak-anak. Kita cenderung lebih memilih cara simple dengan membeli ketimbang meluangkan waktu sedikit untuk berkreasi. Benarlah kiranya bahwa anak-anak adalah sumber kreatifitas sejati, tidak pernah ada matinya ide-ide di kepala mereka. Malah anak-anak biasanya tidak takut menghadapi kegagalan dibanding kita yang selalu menghitung-hitung manajemen resikonya. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Tazki bukanlah hal yang wow, namun keberaniannya untuk berkreasi dan perhatiannya kepada kamilah yang membuat karyanya tampak mempesona dan menghipnotis kami berdua. Karena belum tentu saya sebagai orang dewasa pun punya pikiran dan niatan membuat gantungan seperti itu yang pastinya dalam pikiran saya masih banyak hal yang bisa saya kerjakan selain membuat ini. Namun ternyata bagi anak-anak tidak ada yg namanya tidak berguna apalagi buang waktu. Patutlah kiranya kita mencontoh semangat anak-anak dalam mengerjakan sesuatu hal.

Sepanjang jalan pun dia bertanya kepada kami apakah kami merasa senang dengan hadiah darinya? Spontan kami pun menjawab bahwa kami senang dan selalu menunggu-nunggu hadiah darinya. Tampak sekali dari raut mukanya memperlihatkan rasa puas dan bangga akan pencapaiannya. Saya pun mengambil pelajaran untuk tidak gampang mematahkan semangatnya serta ide-idenya, barangkali dari pemikiran yang sederhana akan tercipta suatu mahakarya yang dinanti-nati oleh dunia. Semoga kami sebagai oragtuanya bukanlah menjadi faktor yang menjegal apalagi membuat dirinya menjadi pribadi yang tidak inisiatif dan tidak kreatif. Tetaplah berkarya ya, Nak! Berikan yang terbaik untuk duniamu saat ini dan nanti.

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Menyulap Kapstok Bekas Menjadi Gantungan Multifungsi

Kemarin kami sekeluarga mengunjungi supermarket ADA yang berada di Kota Semarang. Sebenarnya kami mengunjungi supermarket ini karena ada beberapa kebutuhan yang harus saya beli karena berkenaan dengan adanya pesanan Mango Drink dari teman saya. Ternyata setelah saya cek di rumah ada beberapa bahan yang habis sehingga kami pun berencana mengunjungi supermarket tersebut selain harga barangnya harga grosir dan letaknya pun dekat dari kediaman kami. Setelah setengah jam kami berkeliling mencari barang-barang yang kami butuhkan dan memutuskan untuk segera membayarnya di kasir. Tiba-tiba anak kami meminta izin kepada ayahnya untuk dibelikan kapstok atau gantungan untuk tas-tasnya dikarenakan kapstok yang ada di kamarnya sudah banyak yang potong karena menyangga banyak tas dan pernak-perniknya. Kami pun segera mencari kapstok yang dibutuhkan dan segera membayar semua belanjaan kami di kasir.

Ketika sesampainya di rumah pun anak kami langsung mengambil paku dan palu dan mencoba memasangnya sediri. Karena merasa miring hasil pengerjaannya, akhirnya dia meminta ayahnya untuk bantu memasangnya. Setelah selesai dipasang oleh ayahnya lalu ia pun mulai mengutak-atik kapstok bekas yang sebelumnya. Saya katakan untuk membuangnya saja namun ia tidak berkenan membuangnya dan tetap bersikukuh untuk memanfaatkan kapstok tersebut menjadi sesuatu. Dia pun kemudian meminjam smartphone milik ayahnya untuk dipakainya melihat tayangan DDo It Yourself (DIY). Biasanya jika dia kehabisan ide selalu melihat tayangan video tersebut di Youtube. Setelah hampir satu jam lebih menonton tayangan Di It Yourself  (DIY) akhirnya ia meminta tolong ayahnya untuk berkenaan memotongkan kawat lentur yang ada di gudang belakang rumah. Dan mereka berdua pun larut dalam kesibukannya membuat kreasi dengan memanfaatkan kapstok bekas tersebut. Terdengr debat antara ayah dan anak, rengekan anak kami, serta suara canda tawa mewarnai aktivitas sore mereka.

Tidak berapa lama akhirnya Tazki datang menghampiri dan menunjukkan hasil karyanya duet bersama ayahnya. Sederhana sekali sih sebenarnya malah tidak terkesan waw namun saya sangat terkesan sekali ketika dia menunjukkan bahwa kapstok bekas tersebut sebagai media kaleng-kaleng bekas wadah biskuit dan permen yang dikaitkan oleh kawat lentur agar bisa tergantung di kapstok tersebut. Ketika saya tanyakan apa fungsi barang ini? Dia menjelaskan bahwa kaleng-kaleng tersebut sebagai wadah penyimpanan apa saja. Misalnya menyimpan alat tulis, pin, karet, logam, dll agar tidak berserakan tersebar dimana-mana. Wah, keren sekali idenya walaupun sederhana namun memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Terus berkarya ya, Kak! Kamu keren deh...

#tantangan10hari
#level9
#keliahbunsayiip
#thinkcreative

Berkreasi Membuat Box Penyimpanan Buku

Adakah yang sudah pernah membaca buku karangan Marie Kondo yang berjudul "The Life-Changing Magic of Tidying Up" yang menjadi salah satu buku best seller  di seluruh dunia. Marie Kondo dikenal sebagai konsultan yang ahli dalam seni berbenah rumah maupun kantor yang berasal dari Jepang. Dia memperkenalkan suatu metode merapikan yang ampuh tiada duanya yang disebut teknik KonMari. Keampuhan metode KonMari ini telah membuat hampir seluruh klien Marie Kondo bisa terbebas dari kondisi berantakan di rumahnya akibat menumpuknya barang-barang yang tidak terpakai namun masih saja disimpan karena terkait rasa sayang jika dibuang atau diberikan atau juga ada sisi emosional yang terkandung dalam barang tersebut. Nah, saya menghabiskan waktu selama sepekan untuk membaca dan mencermati setiap tulisan dan metode yang dipaparkan di dalam bukunya tersebut. Kemudian saya buatkan resumenya untuk saya berikan kepada suami agar dijadikan project keluarga. Melihat rumah rasanya sudah penuh dg barang-barang yang tidak diperlukaj namun bingung apakah harus disingkirkan atau tidak. Juga ada satu hal yang membuat saya bersemangat tentang pemaparan dari Marie Kondo bahwa, "Berbenah rumah adalah salah satu cara kita mendetok diri kita sendiri". Jadi penasaran apakah benar dengan berbenah maka kita akan merasa "lahir" kembali? Jadi mari segera kita eksekusi saja!

Pada berbenah rumah kali ini fokus saya adalah menyortir semua pakaian kami yang sudah tidak lagi muat dipakai, modelnya sudah tidak kami sukai, dan pakaian yang selama 6 hingga 12 bulan terakhir ini sama sekali tidak kami sentuh maupun kami pakai. Ternyata mencengangkan sekali bahwa selama hampir 5 hari saya menyortir pakaian yang ada di rumah, saya mendapatkan fakta bawa ada 6 hingga 7 dus besar yang harus kami singkirkan dari dalam lemari. Ditambah sepatu-sepatu dan tas yang tidak terpakai sebanyak 2 bungkusan besar. Pun buku-buku banyak juga yang sudah tidak pernah kami sentuh dan sampai berdebu karena tidak pernah kami baca. Mau tidak mau kami pun kerja bakti menyingkirkan barang-barang tersebut dari dalam rumah dan hasilnya rumah menjadi lebih banyak memiliki space kosong serta terlihat lebih fresh dan entah mengapa pikiran saya pun merasa lebih ringan dan bahagia. 

Berbenah pun akhirnya berdampak pada kamar Tazki juga yang memang tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kebiasaannya adalah mengoleksi barang-barang bekas yang dianggap unik, lucu, ataupu bisa di daur ulang kembali. Namun saya pun akhirnya memberi batasan barang-barang apa saja yang harus dibuang dan oleh disimpan di dalam kamar. Dia pun menyetujuinya dan segera ikut berbenah di kamarnya. Banyak buku-buku yang menjadi koleksinya yang akhirnya harus disingkirkan dan hanya meningggalkan beberapa buku saja. Karena merasa agak berantakan dan terlihat kurang rapi, dia pun segera mengambil kardus bekas yang biasa kami dapatkan ketika kami habis berbelanja di supermarket karena kami memilih menggunakan dus saja sebagai pengganti kantung plastik. Seperti biasa ia asyik berkarya dengan dus-dus bekas tersebut. Meminta beberapa lembar ribuan kepada saya untuk dibelikan kertas kado dan selotip di warung dekat rumah. Setelah selesai berkreasi akhirnya jadilah dus tersebut menjadi wadah penyimpanan koleksi-koleksi bukunya agar terlihat rapi dan tidak berserakan.

Saya dan ayahnya pun sangat tercengang sekali melihat hasil kreasinya membuat wadah buku tersebut. Karena saya sendiri lebih memilih utuk membeli alat penjepit dan pembatas untuk buku supaya bisa rapi ketika dijajarkan di dalam rak penyimpanan buku. Namun, lain halnya dengan anak kami yang lebih senang memanfaatkan apa yang ada di rumah ketimbang membeli sesuatu yang baru. Sekali lagi ini membuat saya yang orang dewasa saja menjadi malu karena sama sekali tidak kreatif dalam memanfaatkan sesuatu atau bahkan tidak terlintas untuk menciptakan sesuatu. Rasanya lebih mudah membeli saja dibanding harus membuat. Terus berkarya ya, Nak! Kami selalu menjadi penggemar setia setiap karya-karyamu...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Jepit Rambut Fenomenal

Waktu saya ajak Tazki ikut Kelas Blogging  bareng teman-teman IIP Semarang yang berlangsung di kantor Biznet Semarang. Tazki tidak sengaja menemukan jepit rambut yang tergeletak begitu saja di lantai ketika dikonfirmasi kepada orang-orang yang hadir disitu pun tidak ada yang merasa jepit rambut tersebut adalah miliknya. Akhirnya Tazki memutuskan untuk mengambil jepit rambut tersebut dan di make over ketika sampai di rumah. Kenapa dia mau make over jepit tersebut? Karena hiasan atas jepit tersebut hilang sehingga terlihat polos dan kurang cantik untuk dipakai. Maka, dia pun langsung bereksperimen di dalam kamarnya untuk menghias jepit rambut tersebut. Keluar masuk kamar kami mencari kain perca yang biasa saya simpan di sela-sela keranjang baju yang belum disetrika. Kemudian mencari kancing di tempat penyimpanan kancing-kancing yang biasa saya simpan bila menemukan kancing yang lepas dari pakaian yang belum sempat saya jahit kembali. 

Sepertinya dia asyik dan tenggelam dalam eksperimennya, di lantai kamarnya berserakan kain-kain perca, benang, gunting, lem tembak, dll. Sesekali dia menghampiri saya hanya untuk meminta bantuan saya memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Menanyakan kepada saya bagaimana caranya menjahit untuk menempelkan kancing di atas kain dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang ia lontarkan mengenai proses menjahit dengan tangan. Namun sepertinya ia agak kesusahan dalam menjahit kancing-kancing tersebut dan mengeluh kepada saya agar mau membantunya menyelesaikan eksperimennya. Saya menolaknya dan meminta dia untuk mencobanya lagi sendiri karena ini sangat mudah. Akhirnya dia pun meninggalkan saya dan kembali berjibaku di dalam kamarnya. Tidak selang berapa lama dia pun segera menghampiri saya dan menunjukkan hasil karyanya dan bercerita dengan girang bahwa dia memilih metode menempelkan kancing tersebut dengan menggunakan lem tembak saja supaya lebih mudah dibandingkan dijahit. Wah, keren juga idenya walaupun sebenarnya sederhana dan simple tapi saya sangat mengapresiasi sekali jerih payah serta proses yang telah dia lewati. Bangga sekali ketika dia akhirnya memiliki solusi untuk mengatasi kesulitannya tersebut tanpa rewel dan putus asa karena permintaannya untuk dibantu saya tolak.

Jepit rambut fenomenal pun akhirnya sukses tersemat di rambutnya dan selalu dia pakai kemana pun bahkan dalam tidur sekalipun. Lucu sekali melihatnya berbinar ceria menceritakan proses pembuatannya kepada ayahnya dan memamerkan hasilnya di depan kami sambil menceritakan bagaimana ide make over  itu muncul di pikirannya. Ternyata memang anak-anak adalah sumber kreatifitas yang tak berbatas selama kita tidak menghalanginya dalam menuangkan dan merealisasikan setiap ide-ide yang terlintas di pikirannya. Selamat mendampingi ananda dengan rileks dan optimis ya...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Nasi Goreng a la Chef Tazki

Sudah dua hari ini hujan mengguyur Kota Semarang dengan derasnya dan bersyukur sekali udara menjadi lebih sejuk walaupun membuat saya akhirnya malas bergerak dan beranjak dari kamar. Ditambah kondisi badan yang kurang fit membuat saya malas untuk memasak. Rasanya ingin merebahkan diri saja di atas tempat tidur sepanjang hari. Untungnya saya selalu menyediakan frozen food bilamana saya tidak sempat memasak maka tidak perlu khawatir karena lauk pauk untuk makan sudah tersedia di dalam freezer hanya tinggal menggoreng atau menghangatkannya saja. Malam harinya ketika waktunya makan malam ternyata Tazki menyampaikan keluhannya bahwa ia bosan makan makanan froozen  lagi sehingga dia berinisiatif untuk membuat nasi goreng dengan resep sendiri dan tanpa dibantu oleh kami orangtuanya.

Saya sendiri tidak terlalu percaya diri dalam membuat nasi goreng dikarenakan menurut lidah saya sendiri, nasi goreng buatan saya tidak terlalu enak dan entah kenapa dalam membuat sambel pun selalu kurang nendang gitu rasanya. Makanya saya sangat jarang membuat olahan nasi goreng maupun sambel. Ketika saya ingin makan nasi goreng pun biasanya suami yang turun tangan untuk membuatkan. Dari awal saya mencoba nasi goreng buatannya sudah cocok di lidah saya dan anak kami. Jadi bila ditanya makanan favorit kami apa? Ya, salah satunya adalah nasi goreng buatan Ayah Lukman.

Kembali lagi ke momen Tazki mengolah nasi gorengnya sendiri, saya pun tidak berusaha memberi tahu apalagi memandunya. Entah bumbu apa saja yang ia masukkan dan campurkan ke dalam masakan nasi gorengnya namun dari kamar pun tercium aroma wangi masakannya. Setelah hampir setengah jam menunggunya memasak, akhirnya saya bisa mencoba nasi goreng a la Tazkiya yang sangat fenomenal. Ternyata sungguh diluar dugaan rasanya sangat enak sekali dengan bumbu yang sepertinya tidak lazim digunakan dalam membuat nasi goreng kebanyakan. Dia pun mengungkapkan bahwa nasi gorengnya tidak diberi garam jadi rasa asin di dapat dari kecap asin. Kemudian dia penasaran dengan kecap inggris seperti apa rasanya lalu eksperimen juga menambahkan kecap inggris ke dalam nasi gorengnya dan diberi sedikit saos tiram. Memang rasanya sedikit aneh karena banyak item bumbu yang ditambahkan, tapi sejauh ini rasanya enak dan bikin saya tambah lagi lho hehehe...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Mengatasi Sprei Yang Kebesaran

Bulan Oktober kemarin saya mendapatkan hadiah sprei dengan motif shabby dari suami saya, kebetulan ketika sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan beliau tidak sengaja melihat-lihat ke bagian perlengkapan kamar dan salah satu raknya memajang banyak sekali sprei dari berbagi motif juga merk. Karena beliau mengetahui saya penggemar shabby  dan ternyata ada sprei motif shabby  di dalamnya maka beliau berinisiatif untuk membelikannya. Namun sayang ukurannya terlalu besar untuk tempat tidur kami yang berukuran 160x200 cm sedangkan sprei tersebut berukuran 200x200 cm. Alhasil kebesaran dan sangat sulit rapi ketika akan dibereskan di keesokan hari. Saya pun beberapa kali mengeluh dengan sprei yg kebesaran tersebut karena ketika dibereskan dan dirapikan ternyata sprei tidak kencang malah banyak lipatan di bagian tengah dan pinggirnya akibat kebesaran.
Nah, karena beberapa hari ini saya agak malas merapikan tempat tidur akhirnya suami saya yang terkadang menggantikan tugas saya sementara untuk merapikan tempat tidur. Entah bagaimana anak kami bisa tahu bahwa sprei ini sering saya keluhkan. Tiba-tiba di suatu pagi ia langsung masuk ke kamar kami dan membuka sprei dan mengutak-atiknya. Saya hanya memperhatikan saja dari balik pintu kamar karena saya sedang sibuk saat itu mengerjakan pesanan yoghurt yang akan diambil sore nanti. Tiba-tiba Tazki berteriak memanggil saya unuk melihat ke dalam kamar saya. Tak disangka ternyata tempat tidur kami rapi dan spreinya pun kencang serta tidak terlihat banyak lipatan di bagian pinggir-pinggirnya.

Saya pun penasaran mengapa bisa rapi seperti itu, Kak? Ternyata sprei yang ada jahitan karet dipinggir-pinggirnya dia pasang di bagian kasur yang lebih panjang di kedua sisi sampingnya sehingga yang tidak dijahit karet dipasang di sisi pendeknya kasur yang mana membuat kasur menjadi rapi dan mudah untuk diatur. Wah, langsung deh saya speechless tidak menyangka anak sekecil ini bisa memiliki ide yang wow. Saya sebagai orang dewasa saja malah tidak terpikir cara seperti itu. Terima kasih ya Kak dengan ide cemerlangnya...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Make Over Buku Agenda Jadul

Belum lama ini Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang mewajibkan semua kordinator dan jajaran pengurus kota untuk wajib mengikuti kelas Public Speaking yang dilaksanakan setiap Hari Sabtu pukul 10.00 - 12.00 WIB yang difasilitatori oleh Mbak Indah Laras. Kebetulan beliau sudah belasan tahun bergelut di bidang penyiaran dimana banyak sekali pengalaman dan jam terbang yang telah dilewati oleh beliau sehingga pantas kiranya beliau diberikan amanah untuk berbagi dan mengajarkan sedikit ilmunya kepada rekan-rekan koordinator IIP Semarang. Sebenarnya bukan tanpa sebab kelas Public Speaking ini diadakan, karena ada tawaran dari pihak radio dan televisi lokal Kota Semarang yang menawarkan untuk disediakan jadwal rutin dan khusus bagi IIP Semarang untuk mensosialisasikan mengenai komunitas ini sehingga diharapkan banyak para wanita baik yang belum menikah, calon ibu, bahkan yang sudah menjadi ibu bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan komunitas Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang ini. Alhamdulillah, karena ini merupakan suatu tawaran yang baik untuk komunitas ke depannya sehingga diharapkan banyak para wanita yang bisa ikut bergabung di IIP Semarang ini.

Seperti biasa kemana saja saya pergi pastilah anak semata wayang kami selalu saya ajak ikut serta menemani hari-hari saya beraktivitas. Seperti halnya hari ini anak kami pun saya ajak mengikuti kelas Public Speaking ini, walaupun ketika sampai tempat acara ia lebih tertarik untuk menggambar, bermain bersama teman-teman lainnya, dan juga asyik menonton tayangan Five Minute Creatives  di Instagram saya. Memang sedari usianya menginjak 6 tahun Tazki lebih tertarik dengan aktivitas crafting apalagi bila membuat aneka Do It Yourself (DIY). Yang mana dia lebih senang memanfaatkan barang-barang bekas untuk dimanfaatkan dan digunakan kembali. Layaknya kita menerima materi, hal yang biasa saya lakukan adalah mencatat setiap materi yang disampaikan oleh narasumber tersebut di buku agenda saya. Dan sudah beberapa kali saya dimintai Tazki untuk bersedia membelikannya buku agenda yang memiliki gembok seperti diary  jaman saya kecil dulu sangat familiar sekali dengan agenda tersebut karena hampir semua teman-teman saya memilikinya. Namun selalu tidak saya luluskan keinginannya mengingat melihatnya yang jarang dan malas jika disuruh menulis. Maka, saya pun berpikir untuk apa saya membelikannya bila nanti malah mubadzir.

Sepulang dari saya mengikuti kelas Public Speaking seperti yang sudah-sudah Tazki kembali meminta saya unuk mau membelikannya buku agenda seperti saya. Kemudian saya berikan penjelasan dan pengertian bahwa buku agenda belum terlalu dibutuhkan untuk anak seusianya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menerimanya dan ersikukuh bahwa dirinya saat ini membutuhkan agenda tersebut. Akhirnya saya pun mencari-cari di dalam dus alat-alat tulis suami yang baru saja diangkutnya dari kantor yang lama dan Alhamdulillah senang sekali akhirnya saya menemukan buku agenda yang tidak terpakai namun masih belum ditulis apa-apa. Sepertinya juga ini adalah buku agenda baru karena masih dalam bungkusan plastik dan saya pun menawarkannya kepada Tazki. Responnya dia tidak suka dengan motifnya yang dia bilang bahwa motif agendanya seperti untuk orangtua dan dia pun menolaknya. Akhirnya saya merayunya hingga akhirnya dia berkenaan untuk memakainya sebagi buku agendanya. Sebenarnya yang dia inginkan adalah buku agenda yang memiliki kancing dan tempat untuk menyelipkan pulpen persis seperti yang saya miliki.

Setelah saya berikan agendanya itu kemudian dia langsung dengan cekatan meminta ijin pada saya untuk meminjam alat jahit dan sebuah kancing yang saya belum sadar mau dijadikan apa kancing tersebut. Setelah satu jam lebih dia mengurung diri di kamar, akhirnya dia memberikn saya kejutan berupa buku agendanya dia tambahkan kancing pengait seperti buku agenda yang saya miliki. Terlihat kegembiraan dan binar mata yang memancar penuh semangat dalam tatapannya kepada saya ketika menyodorkan buku agendanya yang telah dia sulap menjadi apa yang dia inginkan. Senang sekali rasanya dia bisa menemukan solusinya sendiri dengan tidak memaksa saya untuk memenuhi keinginannya. Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu melimpahkan ide-ide dan gagasan yang bermanfaat bagi dirimu dan banyak orang. Aamiin...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Let's Be Creative...

Kira-kira apa yang harus kita lakukan supaya kreatifitas itu bisa muncul dalam diri kita?

Benarkah kebanyakan anak-anak hilang kreatifitasnya disebabkan oleh faktor campur tangan orangtuanya?

Dua pertanyaan tersebut saja sudah berputar-putar di otak saya selama saya membaca hasil diskusi Kelas Bunda Sayang yang dipandu oleh Ibu Septi sebagai fasilitator kami selama menjalani perkuliahan hingga 12 bulan ke depan. Ada beberapa artikel dan slide show yang diposting di grup oleh beliau mengenai kreatifitas pada anak ini. Dalam artikel tersebut menyebutkan salah satunya orangtua dan sekolah formal sebagai faktor yang mematikan kreatifitas anak-anak. Saya pun merasa jleb setelah membaca artikel tersebut, karena merasa apa yang dipaparkan benar adanya selama ini. Teringat oleh saya perihal batasan-batasan dan feedback negatif yang kadang sering saya ucapkan pada anak kami ketika ia sedang mencoba sesuatu hal yang belum pernah dia coba sebelumnya. Atau ketika anak-anak mengerjakan tugas hariannya dengan diselingi beberapa inovasi yang tidak sesuai dengan cara-cara sebelumnya, pasti saya langsung cut dan melakukan interupsi. Dan seharusnya itu tidak perlu saya lakukan karena hal-hal seperti itu jelas-jelas mematikan jiwa kreatifitasnya secara perlahan dan pasti. Untuk itu saya sadar dan harus segera berubah supaya anak-anak memiliki jiwa yang merdeka dalam berpikir, bertindak, dan berkarya tanpa harus takut untuk gagal. Oke, mulai saat ini saya harus berjanji pada diri saya sendiri untuk stop mengintervensi dalam bentuk apapun selama apa yang dilakukan anak-anak masih aman dan on the track. Karena anak sudah lahir kreatif maka kita sebagai orangtua yang harus belajar kreatif, maka cara pertama yang harus dilakukan adalah ubah fokus dan geser sudut pandang. Bismillah...

Kemudian saya segera mengadakan forum keluarga untuk menyampaikan materi yang telah saya dapatkan dan meminta seluruh anggota keluarga untuk memberikan respon mengenai materi tentang mengembangkan kreatifitas ini. Dan hasilnya adalah anak kami pun mengalirkan rasa mengenai apa yang menjadi ketidaksukaannya kepada saya ketika dirinya sedang ingin berkarya dan mencoba-coba sesuatu. Dan saya pun meyadari kekeliruan saya selama ini dan meminta maaf karena dahulu saya belum tahu ilmunya sehingga banyak hal yang tidak seharusnya saya lakukan malah dilakukan dengan sadar kepada anak-anak. Namun, Alhamdulillah anak kami pun menerima permintaan maaf dari kami orangtuanya dan mulai mengeluarkan ide dan gagasan yang ada dalam pikirannya. Kami pun serius memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, ternyata keren-keren juga idenya untuk anak yang sebulan lagi akan menginjak usia 9 tahun. Tidak menyangka besar sekali mimpi-mimpinya, ah..Nak, kamu membuat Bunda menjadi malu dan kecil hati. Semoga terkabul apa yang engkau cita-citakan ya, Nak...

Setelah forum keluarga ditutup tiba-tiba anak kami meminta izin untuk mengambil dus bekas yang baru saja dijadikan wadah belanjaan ketika kemarin kami habis berbelanja di supermarket. Saya pun bertanya mau dibuat apa dus tersebut, namun dia tidak menjawab hanya sibuk dan tenggelam bersama alat-alat tulis yang berhamburan di lantai. Sesekali saya menengoknya di dalam kamar untuk tahu apa yang sedang dia kerjakan, namun sayang saya benar-benar tidak punya gambaran sedikitpun dus tersebut akan menjadi apa. Dalam hati saya bergumam, paling juga dus tersebut mau dibuat pigura oleh anak kami. Hampir 3 jam belum juga selesai pekerjaannya namun saya yakin itu adalah sebuah pigura untuk memajang foto. Entah mengapa dia mengambil jeda dan mengeluh bahwa dia tidak bisa membuat bolongan pada dus tersebut sembari sedikit mengeluarkan air mata. Saya tawarkan bantuan namun dia berkata bahwa hanya ayahnya yang bisa. Baiklah, saya mengalah dan mengajaknya istirahat meninggalkan pekerjaannya sejenak. Namun dia tidak mau dan tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya tersebut hingga akhirnya saya tahu bahwa dia sedang membuat replika televisi layar datar hahaha... Padahal saya menyangka itu adalah sebuah pigura foto tapi ternyata dia membuat mainan televisi layar datar karena beberapa pekan lalu kami sekeluarga baru saja menginap di hotel karena sedang melakukan perjalanan keluar kota. Dari situlah anak kami memiliki keinginan ada televisi di kamarnya seperti yang dia lihat di kamar hotel saat itu. 

Akhirnya setelah ayahnya pulang kantor, anak kami meminta bantuan ayahnya untuk membantu menyelesaikan hal-hal yang dia rasa kesulitan untuk dikerjakan sendiri. Dan akhirnya sebelum pukul 21.00 televisi dari kaedus pun sudah terpasang dengan cantik di kamarnya. Senang dan terharu sekali melihat kegigihannya menyelesaikan apa yang dia pikirkan dan inginkan, walaupun ada drama di dalamnya tapi Alhamdulillah dia bisa melewati semuanya. Barakallah, Nak...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Jumat, 28 April 2017

Bereksperimen Dengan Henna si Pewarna Kuku

Siang hari ini kami kedatangan banyak tamu dari mana-mana, baik yang memiliki hubungan kerabat maupun yang tidak sama sekali. Kebetulan hari ini tepat hari ke tujuh meninggalnya almarhumah nenek saya sehingga banyak orang yang berdatanganan ke rumah. Meskipun kami sekeluarga tidak melakukan tradisi tujuh harian namun keluarga di kampung masih melakukannya. Karena banyak kerabat yang datang maka banyak pula anak-anak kecil yang datang ke rumah kami dan tentunya membuat Kakak senang. Setiap sudut dijelajahi oleh para bocah sambil berlarian dan tertawa saling bersenda gurau.

Kakak walaupun usianya baru menginjak 8 tahun namun sedari kecil senang menjadi leader dalam grup permainannya. Sehingga terkadang anak yang usianya lebih tua daripada Kakak bisa mengalah untuk mengikuti segala instruksi Kakak. Karena dua hari ini saya memperbolehkan Kakak untuk download permainan yang bertemakan tentang 'Salon' maka ia pun dengan para bocah masuk ke kamar almarhumah nenek saya untuk bermain salon-salonan menggunakan alat-alat yang mereka temukan di kamar. Saya pribadi tidak bisa membersamai mereka dikarenakan sibuk menerima para tamu yang datang ke rumah. Namun saya sesekali melihat mereka dari kejauhan sembari saya menguping beberapa pembicaraan mereka.

Pas ketika rombongan Enin dan Nenek (ibu dan tante saya) baru tiba setelah melewati perjalanan Bandung-Cijulang. Barulah saya berkesempatan berbincang bersama Kakak secara langsung. Saya bertanya apa saja yang Kakak lakukan dengan teman-teman ketika sore hari tadi. Kakak bercerita dia bermain peran bersama teman-temannya. Kakak menjadi pemilik salon dan sebagai perias wajah. Saya tidak bisa menyembunyikan ekspresi saat itu dan saya pun tertawa. Kemudian Kakak bercerita ketika bermain di kamar nenek saya, dia menemukan sebuah pasta yang ternyata itu adalah henna untuk mewarnai kuku. Karena tidak tahu itu digunakan untuk apa, mereka pun mencoba menuliskan henna pada kertas dan berakhir di atas kulit tangan dan jari-jari serta kuku mereka. Ternyata itu membuat Kakak senang karena ketika mencoba henna tersebut tiba-tiba kulit dan kuku tangannya menjadi berwarna orange. Akhirnya Kakak pun meminta saya untuk menjelaskan mengenai henna tersebut dan berakhir dengan obrolan panjang hingga membuatnya lelah dan tertidur.
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Kamis, 27 April 2017

Reading A Loud

Sepertinya hari ini saya berencana untuk melakukan aktivitas reading a loud  bersama Kakak. Sebenarnya sudah ingin mengeksekusi dari dua hari yang lalu, namun baru sekarang bisa terlaksana. Kami mengunjungi rumah tante saya yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah almarhumah nenek saya untuk mencari buku bacaan yang akan kami baca. Kebetulan beliau membuka sebuah lembaga pendidikan di rumahnya dan terdapat beberapa buku yang menarik untuk dibaca. Setelah mencari-cari beberapa judul buku akhirnya kami menemukan buka yang menarik minat kami untuk kami baca.

Saya membacakan pertama kali dengan suara sedikit lebih keras dibanding biasanya, kemudian saya minta Kakak untuk mengulangi apa yang saya bacakan dan menceritakan kembali tentang apa yang dia dengar. Hasilnya bagaimana? Wah, membuat saya tidak berhenti tersenyum dan menahan tawa karena terkadang apa yang saya bacakan dengan yang Kakak ulangi mengalami sedikit perbedaan redaksi dan tentunya penambahan beberapa cerita yang menjadi imajinasinya. Tidak menjadi soal  bagi saya, yang terpenting 70%-80% Kakak mengerti apa yang saya bacakan dan bisa mengulangi kembali cerita tersebut.

Alhamdulillah..sejauh ini semuanya berjalan lancar dan menyenangkan bagi kami karena kami bisa tertawa terbahak-bahak ketika mengoreksi kembali isi buku tersebut yang oleh Kakak diulangi menurut pemahamannya.
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Rabu, 26 April 2017

Bersepeda Keliling Kampung

Suasana pagi di Cijulang berselimut mendung dan udara terasa agak dingin tidak seperti biasanya. Pagi ini agenda saya adalah mencuci baju walaupun rasa malas melanda karena melihat matahari tertutup awan kelabu. Setelah cucian beres agak kaget juga karena melihat Kakak masih berbaring di tempat tidurnya. Sepertinya Kakak tidur kembali setelah melaksanakan Shalat Subuh tadi. Akhirnya saya bersiap-siap untuk pergi ke pasar membantu Engking membuka toko, karena ada beberapa spot yang harus kami bongkar dan bereskan supaya terlihat lebih rapi penataannya. Kata Engking nanti siang akan ada tukang yang akan memasang televisi di toko supaya ada hiburan.

Setelah 2 jam membantu Engking di pasar, tiba-tiba Kakak datang ke toko menyapa kami dan melaporkan bahwa dia sudah mandi dan sarapan. Akhirnya Engking meminta kami untuk membantunya membuka celengan dan menghitung isinya yang ternyata berisi uang logam pecahan Rp 1,000,-. Wah, bisa nih menjadikan kegiatan ini sebagai ajang pembelajaran untuk Kakak. Oke, Kak kita hitung uang ini sampai berjumlah sepuluh buah. Lumayan juga jumlah koinnya banyak hingga mencapai nominal 2 juta lebih. Namun, terlihat dari binar matanya jika Kakak tidak terlalu menyukai aktivitas ini. Kemudian tidak berapa lama Kakak pun pamit untuk pulang ke rumah karena bosan. Saya pun mengantarnya hingga ke rumah dan ketika sampai di rumah tiba-tiba Kakak membuka kamar gudang dan melihat ada empat sepeda yang mana salah satunya adalah sepeda khusus untuk perempuan dewasa. Kakak mencoba untuk mengeluarkan sepeda tersebut dari gudang menuju garasi sendirian dan terlihat jelas dia sangat menyukai sepeda berwarna biru muda tersebut. Kakak meminta izin saya untuk mencoba sepeda tersebut berkeliling kampung. Saya pun mengizinkan dan ternyata belum jauh dari rumah tiba-tiba Kakak terjatuh dari sepeda sebab ukuran sepedanya terlalu tinggi sehingga membuat Kakak tidak bisa mengendallikan sepeda tersebut. Ada gurat kecewa di wajahnya karena merasa tidak mampu mengendarainya, namun selang beberapa menit Kakak kembali menuju gudang dan mengambil sepeda yang lainnya untuk dicoba kembali tapi setelah di cek ternyata sepeda yang kedua ini remnya tidak berfungsi.

Saya tidak tega membiarkannya mengendarai sepeda tersebut tapi saya mencoba menahan diri untuk melarangnya. Maklum Kakak biasa rutin berolahraga selama di Semarang jadi dia merasa terfasilitasi dengan adanya sepeda tersebut. Karena hari ini dia sedang tidak ingin mempelajari sesuatu maka saya memberikan kebebasan untuk Kakak bersepeda keliling kampung sembari mengenal local wisdom disini. Ternyata Kakak berkenalan dengan anak perempuan setempat yang berusia 12 tahun dan mengajaknya bersepeda dan mengajaknya untuk menginap di rumah nanti malam. Wow, Kakak selalu bisa dengan mudah mendapatkan kenalan baru dimana pun, nampaknya ini adalah kelebihannya yang mana orang bilang itu adalah SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Dan benarlah malam ini teman barunya yang bernama Siska itu pun datang ke rumah bersama nenek dan kakeknya untuk bermalam di rumah. Baiklah, ayo kita sambut teman baru Kakak dengan hangat...
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KulianBunSayIIP 

Selasa, 25 April 2017

"Apa Yang Terjadi Setelah Mati, Bunda?"

Kira-kira apa yang terlintas di benak kita kala sang anak menanyakan perihal pertanyaan tersebut??
Bingung dan tentunya membuat kita sejenak berpikir keras mencari jawaban yang bisa dijelaskan kepada anak dengan bahasa yang tentunya mudah ubtuk dipahami oleh anak kecil. Ya, seperti itulah saya merasakan kebingungan tersebut apalagi Kakak beberapa hari ke belakang ini melewati hari berkabung di Cijulang. Pastinya sedikit banyak pertanyaan tersebut adalah rasa penasarannya selama ini mengenai kemana kita setelah mengalami kematian. Disaat anak bertanya tentang suatu hal maka kita sebagai orangtua sebisa mungkin menjawab pertanyaan sang anak dengan benar dan serius. Hindari memberikan jawaban yang asal-asalan, tidak serius, sok tahu, dan tidak memberikan informasi yang sebenarnya. Kalau pun kita tidak tahu jawabannya maka jujurlah kepada anak bahwa kita saat ini belum mengetahui jawabannya, akui bahwa kita memang tidak tahu dan ajak anak untuk mencari tahu agar mendorong rasa keingintahuannya.

Saya mengajak Kakak ke rumah adik dari almarhumah nenek saya kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah nenek saya dan di rumahnya terdapat wifi sehingga kita bisa mudah mendapatkan akses internet. Kita pun duduk di ruang tamu dan saya menjelaskan kepada Kakak bahwa orang hidup itu pada akhirnya akan menjumpai kematian dan setelah mati maka manusia akan berada di alam barzah (kubur). Pertanyaan pun akhirnya banyak terlontar dari Kakak mengenai "kenapa orang mati harus dikubur?", "di dalam kuburan itu kita ngapain?", "kenapa manusia lama-lama menjadi tanah setelah dikubur?', dll. Saya pun akhirnya mengarahkannya untuk bersama-sama mencari jawaban dengan menggunakan media Youtube dengan mengetikkan keywords yang akan dicari. Alhamdulillah...ternyata ada video yang menjelaskan mengenai apa yang terjadi setelah kematian. Kemudian kami pun sama-sama menonton video tersebut dan Alhamdulillah videonya itu kartun dan bahasa yang digunakannya juga sangat sederhana dan mudah dimengerti oleh anak-anak. Setelah menonton video tersebut barulah Kakak mulai mengerti sedikit banyak mengenai apa yang akan terjadi setelah kematian.

Adanya kemudahan teknologi membuat saya sebagai orangtua yang memiliki anak homeschooling menjadi lebih mudah dalam membersamainya belajar mengenai banyak hal. Ditambah Kakak lebih mudah jika belajar sambil melihat dan praktek langsung sehingga adanya internet memudahkan kami untuk belajar dan mencari tahu mengenai informasi banyak hal.
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Senin, 24 April 2017

Bermain Peran Sebagai Kurir Antar Barang

Rencananya keluarga besar kami akan bertolak ke Bandung hari ini, namun Saya, Kakak, dan Engking masih harus tinggal beberapa hari lagi disini untuk mengurus toko yang ditinggalkan oleh almarhumah nenek saya. Lumayan melelahkan juga hari ini karena kami melakukan operasi bersih di toko untuk membereskan barang-barang yang sudah lama tidak terpakai namun masih tersimpan di dalam toko sehingga membuat ruangan toko terlihat sempit. Namun, ketika dari pagi hingga menjelang waktu dzuhur terlihat Kakak tertidur di pojokan kursi dalam toko. Sepertinya ia kelihatan tidak bersemangat dan kurang enak badan. Setelah saya menghampirinya dan memegang keningnya ternyata badannya hangat, sepertinya ia masuk angin karena semalam tidur langsung di bawah kipas angin. Tidak berapa lama ia pun terbangun karena mendengar suara adzan dan langsung menghampiri kami yang sedang sibuk membereskan toko dan langsung bergabung dengan kami.

Karena beberapa hari ini yang terlihat kuat adalah gaya belajar kinestetiknya, maka saya berpikir untuk melatih gaya belajar auditorinya yang cenderung lemah dengan cara memberikannya instruksi dalam pesan suara langsung. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dahulu ke rumah sekalian menunaikan shalat dzuhur. Setelah itu saya menghampirinya dan mengobrol sebentar kemudian memintanya untuk melaksanakan apa yang saya instruksikan. Sengaja tidak saya tuliskan pesannya di atas kertas memo karena tujuan saya adalah ingin melatih kemampuan auditorinya. Pertama saat ia mendengarkan instruksi saya terlihat seperti yang mengerti, namun setelah saya beres memberikan instruksi ternyata ia meminta saya untung mengulang kembali apa yang sudah saya katakan barusan. Oke, saya ulangi lagi dengan jelas dan tidak terburu-buru. Pesan yang saya sampaikan sangat sederhana sekali karena saya hanya memintanya untuk "Kak, tolong minta uang ke Engking Rp 40,000,- buat beli gas dan minta plastik ukuran 1/2 kg". Setelah saya mengulangi hingga dua kali dan Kakak langsung pergi ke pasar ternyata belum juga 5 menit ia sudah kembali lagi untuk meminta saya mengulangi kembali instruksi yang tadi saya katakan. Saya berusaha untuk tidak buru-buru jengkel karena memang gaya belajarnya tidak dominan di auditori sehingga pastilah akan merasa kesulitan. Setelah saya mengulangi lagi instruksinya, kemudian saya bekali dia dengan contoh plastik ukuran 1/2 kg tersebut. Barulah setelah itu Kakak pergi dan beberapa menit kemudian kembali dengan membawa pesanan yang saya katakan tadi. Alhamdulillah....saya katakan terimakasih dan memeluknya karena sudah bersedia saya mintai tolong.

Dari sini saya belajar bahwa sekuat apapun tipe belajar kita, tetaplah kita harus bisa melakukan semua tipe gaya belajar. Mengapa? Karena saya sendiri pun tidak terlalu menguasai gaya belajar secara online dan membaca materi melalui sebuah media tanpa suara. Tapi karena dalam mengikuti perkuliahan di IIP ini kami para member difasilitasi oleh Bu Septi belajar dan mendapatkan ilmu salah satunya dengan cara online sehingga mau tidsak mau pun saya harus bisa beradaptasi agar bisa mengikuti perkulihan ini dengan maksimal tidak ketinggalan materi. Begitu juga dengan Kakak, walaupun gaya belajarnya dominan di kinestetik dan visual. Tetap saja gaya belajar auditorinya harus digunakan walaupun tidak menjadi gaya belajar yang sering dilakukan. Semoga dengan ini saya bisa makin mengerti dan memaklumi Kakak yang tentunya ada perbedaan sedikit dari gaya belajar saya sebagai fasilitatornya.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Minggu, 23 April 2017

Day 2 in Cijulang

Hari ini masih merupakan hari berkabung di rumah Almarhum nenek saya. suasana duka sedikit banyak masih terasa.. kami semua banyak berdiam di rumah duka, namun tidak dengan Engking.. Beliau langsung menuju warung tempat almarhumah biaasa berjualan.. menurut beliau, warung tersebut harus tetap berjalan karena ada orang lain yang menggantungkan nasibnya pada usaha tersebut.. maka berangkatlah beliau ke pasar tempat warungnya berada yang kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh..
Setibanya di warung sudah ada Teh Yanti dan Uti, pegawai yang telah belasan tahun bekerja kepada almarhumah.. Mereka inilah yang menjadi motivasi Engking untuk terus menjalankan warungnya.. saya dan suami mengantarkan beliau ke warung sekaligus melihat-lihat kondisi pasar.. pasar tersebut menjadi salah satu tempat favorit saya sejak kecil tiap kali mudik ke Cijulang karena saya bisa mengambil banyak makanan atau cemilan di warung nenek saya.. bagi anak kecil,, punya nenek yang berjualan itu adalah surga, karena bisa bebas ambil jajanan.. (dasar pemikiran bocah, hehehe.). belakangan, kebisaan tersebut rupanya menurun ke Kakak karena nenek saya memang suka mentraktir saudara dan kerabat jauh yang berkunjung ke warungnya.. 
\
Engking langsung fokus ke pencatatan keuangan warung, seperti hutang piutang, posisi kas, mempelajari harga barang, tak lupa untuk menjalin relasi dengan pelanggan almarhum.. Engking terbantu banyak karena selain memang tipe beliau mudah akrab dengan orang, beliau juga merupakan putra daerah asli situ sehingga pelanggannya pun banyak yang merupakan teman masa kecilnya.. lain Engkin lain lagi dengan suami.. suami saya langsung mengamati kondisi warung dan dagangan warung.. tak lama kemudian, suami saya berbisik kepada saya bahwa ternyatma banyak hal yang harus dibenahi.. mulai dari lampu yang mati, plafon yang bolong karena tikus, kunci gudang yang harus diganti, makanan yang expired, dan lain sebagainya.. kondisi etalase pun tidak begitu eye catching di mana penataan antara makanan dengan kebutuhan sehari-hari diletakkan bersebelahan..lalu kami pun sepakat untuk membantu Engking membereskan warung..

kami membagi tugas, saya bagian mengumulkan sampah sedangkan suami saya bagian sortir barang yang sudah expired, menata display etalase, serta mengumpulkan barang yang masih bisa diretur.. selang beberapa lama kami berjibaku, datanglah Kakak ke warung dengan niat awal ingin mengambil jajanan.. kami mencegahnya dan memberikan pemahaman bahwa sekarang keadaannya sudah berbeda, sudah tidak ada lagi yang traktir.. sekarang harus menggunakan hitungan dagang karena business is business, dan ada pegawai yang harus diberi gaji.. Alhamdulillah Kakak mengerti dan malah ikut membantu beres-beres.. saya bersyukur sekali karena Kakak memiliki kesenangan untuk beres-beres, seperti suami saya.. Dia sangat cekatan sekali membereskan meja, menyapu lantai, membantu Engking menyortir uang logam, dan lain-lain.. Subhanallah.. 

Hasil pengamatan saya pada cara belajar Kakak hari ini tidak terlalu banyak karena sebagian besar hari ini saya habiskan di warung untuk beres-beres.. namun dari sedikit waktu saya bersama Kakak, saya melihat bahwa keterampilan kinsestetik kakak sangat menonjol terutama saat beres-beres.. Kakak juga memiliki inisiatif ketika melihat bahwa semua sedang bekerja,, yang mana inisiatif ini kurang muncul ketika hanya mendengar bahwa semua sedang bekerja.. sehingga keterampilan kinestetik dan visual anak saya dominan terlihat pada kegiatan singkat tersebut.. 

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Sabtu, 22 April 2017

Lessons in a Cloudy Day

Pukul 03.00 WIB.. Kami dikagetkan dengan adanya kabar yang sangat mengejutkan.. Nenek saya yang tinggal di Cijulang, suatu kecamatan di Kabupaten Pangandaran telah meninggal dunia.. Innalillahi wainna ilaihi rooji'un.. kami semua yang ada di rumah terkejut dan segera diputuskan pagi itu juga kami sekeluarga berangkat ke Cijulang untuk mengantarkan Nenek kami ke peristirahatan terakhirnya..

Saya memandikan Kakak untuk segera mencuci  muka dan mempersiapkan baju yang akan dibawa.. dengan segera Kakak langsung menuju kamar mandi.. namun tak lama kemudian, kakak kembali ke kamar dalam keadaan menggigil.. ketika ditanya, ternyata Kakak langsung mandi, padahal perintahnya adalah cuci muka.. tapi baguslah,, jadi dia tidak harus mandi lagi nanti.. hehehe..

selepas Sholat Subuh kami bergegas menuju Cijulang.. Ayah saya yang menyetir, dan karena ini darurat maka nyetirnyapun lebih cepat dari biasanya.. well, kurang baik sih sebenarnya,, tapi karena darurat maka apa boleh buat. saya hubungi pak Suami yang sedang berada di Semarang dan tak lama kemudian beliau pun segera menyusul kami ke Cijulang..

Alhamdulillah rombongan saya dan keluarga saya tiba di rumah nenek kami pukul 11.30 WIB.. suasana saat itu lumayan ramai,, kami pun segera mengambil air Wudlu dan segera menyolati Almarhumah.. Almarhum dikebumikan setelah solah Dzuhur dengan diiringi kerabat dan tetangga.. sekilas saya memandang Kakak, dan terlihat dia serius sekali memperhatikan setiap tamu yang datang, jenazah almarhumah, mendamingi neneknya ngobrol dengan para tamu yang datang, memandangi keranda jenaah,, bahkan dia ikut saat mengiringi jenazah ke pemakaman..serius sekali dia dalam memperhatikan..

setelah acara pemakaman selesai, kami berkumpul kembali ke rumah duka.. lalu kami terlibat pembicaraan dengan sanak saudara yang jarang sekali bisa berkumpul kecuali lebaran atau ada momen seperti ini.. dari hasil pembicaraan itu, ada info tentang taman baru di dekat situ yang biasa dijadikan orang-orang dan anak-anak berkumpul di sore hari.. kebetulan Kakak juga sudah mulai jenuh di rumah, maka saya langsung saja mengajak Kakak berkunjung ke taman tersebut..

setibanya kami di sana, kami disuguhkan taman yang cukup ramai.. tapi pandangan Kakak langsung tertuju pada alat Gym (ainan dari besi yang berbentuk seperti alat-alat kebugaran di gym).. ada kurang lebih 9 (sembilan) alat di sana.. dia pun langsung berlari menuju alat-alat tersebut dan langsung mencobanya satu persatu.. nampaknya dia memang senang sekali bergerak dan mudah sekali melakukan gerakan fisik, terlihat dari dia dengan lincahnya menggunakan alat-alat tersebut.. bahkan ada salah satu alat angkat beban yang bahkan tantenya saja tidak bisa mengangkatnya namun dia malah bisa mengangkatnya.. dan dia sangat senang sekali selama bermain di sana..

tak terasa akhirnya kami harus segera kembali ke rumah.. Kakak pun akhirnya pulang dengan enggan.. di perjalanan pulang kami bercerita tentang keseruan hari ini.. di luar dugaan, ternyata dia bisa menceritakan semua yang dia alami hari ini mulai dari bangun lalu tiba-tiba mandi, lalu tiba di cijulang dan meneritakan semua yang dia lihat (secara detail bahkan), hingga perasaan seru yang dirasakannya ketika bermain di taman.. 

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Jumat, 21 April 2017

Jalan-Jalan Ke Taman Skater Bandung

Sejak Bapak Ridwan Kamil menjabat sebagai Walikota Bandung beberapa tahun lalu, banyak sekali perubahan yang terjadi di Kota Bandung. Salah satunya adalah pembuatan beberapa taman dan salah satu dari beberapa taman yang ada di Kota Bandung adalah Taman Skater dimana taman ini digunakan oleh komunitas skateboard dan roller blade untuk berlatih menyalurkan hobi mereka. Saya bersama anak mengunjungi Taman Skater ini yang berlokasi di bawah fly over Pasupati. Kebetulan siang itu beberapa anak muda berlatih skateboard dan roller blade. Tidak disangka ternyata anak kami sangat antusias sekali melihat komunitas ini berlatih, apalagi sebulan yang lalu anak kami mendapat sebuah hadiah roller blade dari Engking dan Enin. Klop deh ketika Kakak melihat ada dua orang yang sedang berlatih roller blade Kakak langsung mengawasi setiap gerakan lincah mereka saat bersepatu roda. Sesekali Kakak menirukan gerakan mereka di pinggir sambil terus menonton dan memperhatikan dengan seksama.

Memang hobinya adalah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan olah fisik dan Kakak sangat antusias jika diajak berolahraga apalagi kalau olahraga tersebut adalah yang dia sukai maka akan terlihat binar di matanya. Kakak termasuk anak yang cepat bisa ketika dia menyukai suatu hal dan memang dari kecil terlihat bahwa Kakak adalah anak yang memiliki kemampuan kinestetik. gaya belajarnya pun adalah tidak bisa diam dan duduk manis di tempatnya. Setiap kami memaksanya untuk duduk manis dan fokus mendengarkan selalu ia mengeluhkan lelah dan capek. Nampaknya ia memiliki energi yang berlebih jika bergerak kesana kemari ketimbang kami memintanya untuk duduk tenang. Setiap dia penasaran dengan sesuatu selalu harus langsung mencobanya saat itu juga. Keinginannya untuk mempraktekkan kadang sulit untuk dibendung. Selain itu Kakak adalah anak yang kuat dalam visualisasi ketimbang auditory. Dia harus melihat langsung mengenai suatu hal sebelum langsung mempraktekkannya. Karena merasa lebih jelas ketika ia dapat melihat langsung sesuatuyang menarik hatinya.

Dalam menghapalkan sesuatu pun tidak bisa hening apalagi tenang, Kakak selalu menghapal dengan cara diucapkan berulang-ulang dengan suara keras dan kadang berteriak. Ketika saya mengajarkannya menghapal doa-doa pun harus selalu diulangi dengan suara keras dan berulang kali. Sangat tidak suka membaca buku yang isinya penuh dengan tulisan ketimbang gambar-gambar. Kurang senang dibacakan buku cerita, kalaupun kita mau membacakan buku, maka diapun harus ikut melihat dan membaca langsung cerita tersebut dalam buku yang sedang diceritakan. Sepertinya untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dibacakan adalah sesuai dengan teks aslinya. Pada akhirnya setiap dia penasaran dengan suatu hal, yang saya lakukan adalah sama-sama mencari sumber ilmu dari buku-buku, mengajaknya langsung ke tempat yang memang dapat memberikan info dan gambaran dari apa yang ingin diketahui oleh Kakak, dan jalan terakhirnya adalah mencarinya dengan cara mencari di google atau di youtube. Baru setelah mengamati biasanya langsung action untuk mengeksekusi apa yang sudah dia lihat dan pelajari.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Kamis, 20 April 2017

Menemukan Dan Memahami Gaya Belajar Anak

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hip..Hip..Horeee..
Semangat!! Semangat!!

Setelah seminggu vakum dari kegiatan memposting tantangan tugas di perkuliahan Bunda Sayang. Kini saatnya kita masuk pada materi keempat, yaitu tentang Mengenal Gaya Belajar Anak. Yup, adakah para bunda yang sudah menemukan apa sih gaya belajar anak-anak di rumah? Jika ada yang belum menemukan gaya belajar anak-anak kita, maka don't worry anada tidak sendirian karena saya pun masih merasa belum menemukan gaya belajar yang dominan digunakan oleh anak kami dalam kegiatan belajarnya sehari-hari. Bersyukur sekali ketika Bu Septi memberikan materi keempat di awal pekan ini, yang mana materinya sangat pas untuk kondisi yang sedang kami hadapi di masa transisi anak kami dari yang tadinya bersekolah dan tiba-tiba memilih untuk homeschooling bersama kami orangtuanya di rumah. Percayalah, ini membuat kami merasakan kebingungan yang luar biasa karena memang sesuatu yang dipilih anak kami adalah pilihan yang menurut kami sangat 'tidak biasa' dan asing untuk kami pribadi. Bagaimana kami yang notabene adalah jebolan produk pendidikan sekolah formal dimana kami sudah biasa belajar dan mempelajari sesuatu yang sudah disediakan oleh sistem pendidikan yang terstruktur harus mendampingi anak kami sebagai fasilitator belajarnya. Wow!! Rasanya seperti kami belajar kembali merekonstruksi sistem dan pola pendidikan yang kami terima dahulu. Ada yang kami pertahankan untuk nantinya kami modifikasi ada sebagian yang kami buang karena dirasa kurang efisien untuk mendorong keingintahuan anak akan segala ilmu pengetahuan.

Setelah saya pikirkan kembali mengenai langkah apa yang harus saya ambil terlebih dahulu terkait mengidentifikasi mengenai gaya belajar anak kami. Maka, yang harus kami sebagai orangtua lakukan adalah mengenali dan paham betul mengenai diri kita sendiri dan pasangan tentunya. Selanjutnya barulah kita dapat mengidentifikasi dan memahami mengenai keseluruhan anak-anak kita. Bukankah sebelum mengenali orang lain terlebih dahulu, alangkah bijaksana jika kita yang terlebih dahulu mengenal baik siapa sesungguhnya diri kita. Akan lebih mudah bagi kita untuk mengidentifikasi anak-anak kita ketika kita sudah lebih dahulu mengenal diri dan pasangan kita dengan baik. Karena apa? Anak-anak kita merupakan miniatur diri kita, pasangan kita, dan bisa jadi kombinasi antara kita dengan pasangan kita. Setelah kita mengenal dengan baik diri kita serta pasangan kita, maka kita akan lebih mudah untuk mengenali dan mengidentifikasi segala hal tentang anak-anak kita. Bisa jadi kita akan lebih faham mengenai kebutuhan emosinya, mempraktekan dengan baik komunikasi produktif kita dengan anak karena kita mengetahui cara efektif berkomunikasi dengan mereka. Sebab antara anak satu dengan anak yang lain akan berbeda cara memperlakukannya, cara belajarnya, cara berpikirnya, dsb.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP