Minggu, 03 Desember 2017

Belajar Sambil Mengajar, Karena Setiap Kita Adalah Guru Bagi Dirinya Sendiri...

Awal mula saya mengajukan diri untuk menjadi fasilitator matrikulasi saat itu adalah karena saya menyadari bahwa dalam waktu sembilan pekan mengikuti materi matrikulasi dan juga ditambah mengerjakan Nice Home Work (NHW). Ada perasaan yang cukup mengganggu saya saat itu, yakni saya merasa ilmu yang saya dapatkan selama sembilan pekan itu belum bisa saya pahami dengan sebenar-benarnya. Saya butuh mencerna itu secara perlahan dan juga butuh teman yang sama-sama belajar dan melakukan perubahan. Maka ketika ada pembukaan fasilitator matrikulasi pun akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan diri yang mana saya sebetulnya ingin mengulang materi kembali bersama teman-teman yang saya fasilitatori. Pengalaman saya ketika membersamai teman-teman yang saya fasilitatori ternyata saya pun perlahan mengerti dan paham dengan materi yang sebelumnya saya sendiri pun merasa bingung. Dari pengalaman inilah saya menyimpulkan bahwa kita akan lebih memahami suatu ilmu jika kita mengajarkan kembali kepada orang lain. Karena dengan mengajar sesungguhnya kita sedang mengeluarkan segala daya dan upaya yang kita miliki untuk memberikan pengajaran kepada orang lain alih-alih sebenarnya kita sedang mengajar dan melakukan perubahan pada diri kita.

Saat ini saya sedang mengampu sebagai fasilitator perkuliahan Bunda Sayang di Kelas Karawang Bekasi pada caturwulan kedua ini. Menurut cerita dari salah satu pengurus kelas mengatakan bahwa pada awalnya jumlah peserta itu lumayan banyak, namun ketika memasuki caturwulan kedua ini para pengurus kelas melakukan perampingan jumlah peserta dikarenakan banyak peserta yang cuti, silent reader, tidak mengerjakan tugas dengan lengkap, dsb. Hingga pada saat pertama kali saya masuk ke kelas tersebut, ketua kelasnya melaporkan bahwa total peserta di kelas tersebut berjumlah sekitar 35 orang. Ketika pertama kali mensosialisasikan Code of Conduct (CoC) mengenai keaktifan di kelas, banyak respon dari hampir seluruh peserta dari yang aktif hingga yang silent reader pun mulai bersahutan dan menyemarakkan kelas. Dalam pekan pertama hingga memasuki pekan ketiga kelas masih cukup ramai namun mulai berkurang para peserta yang aktif berkomentar maupun yang berbagi cerita. Apalagi setelah review materi hingga aliran rasa pun kelas cenderung tidak seaktif dan seramai ketika pekan pertama. Yang muncul berkomentar pun orang-orang yang sama aktif di awal saya masuk kelas baru ini. Perangkat kelasnya pun kooperatif dan siap sedia jika waktunya diskusi, Senin Semangat, dan Jum'at Hangat beberapa dari mereka ikut meramaikan. Sejauh ini yang biasanya silent reader pun sudah mulai unjuk gigi ikut berkomentar dan menyuarakan buah pikirannya. Adapun yang masih belum bisa bergabung ketika diskusi biasanya ada beberapa yang menghubungi saya untuk meminta izin dan menyampaikan alasannya. Penilaian saya untuk keaktifan kelas bisa dikatakan cukup baik. Oya, mungkin juga ada pengaruh ketua kelas pada caturwulan pertama ini kebetulan mengundurkan diri dari tugasnya dikarenakan ada permasalahan yang urgent dan membutuhkan perhatian lebih dari beliau. Nah, saya sempat merasakan kelas dikoordinatori oleh beliau dan memang lebih ramai serta banyak diskusi diluar materi pada bulan itu. Kebetulan ketua kelasnya memang dituakan oleh teman-temannya ditambah pendidikan beliau juga adalah psikolog sehingga banyak teman-teman yang terbantu dengan saran-saran yang diberikan oleh beliau.

Catatan saya mengenai koordinator bulanan pun sejauh ini tidak ada masalah yang berarti, mereka sudah paham mengenai tata cara google form dan teknis lainnya. Karena ada dua koordinator bulanan yang mengundurkan diri karena cuti, maka kami pun mengadakan open recruitment untuk mengisi posisi yang kosong tersebut. Sehingga akhirnya diputuskan akan diadakan kembali pembekalan tutorial google form dan hal-hal yang berkaitan dengan teknis di kelas. Ketua kelas berinisiatif untuk meminta bantuan Rumah Belajar IT IIP kotanya untuk bersedia mengisi pelatihan ini via online di Whatsaap grup perangkat kelas. Pencatatan dan segala yang berhubungan dengan administrasi pun sangat rapih. Saya sangat berkesan sekali dalam hal ini.

Kemudian untuk tugas-tugas yang dikerjakan oleh peserta saya baca dan ada beberapa tugas yang memang mengerjakannya ala kadarnya saja. Sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja sehingga tugas yang diposting pun hanya berupa foto judul buku dan bab yang dibaca tanpa ada penjelasan beberapa kalimat ataupun paragraf yang menyertai di dalamnya. Namun tidak semuanya seperti itu, ada juga beberapa orang yang memang bersungguh-sungguh mengerjakannya dan sangat inspiratif sekali pengalaman yang mereka tuangkan dalam tugasnya tersebut. Ini yang memang harus saya sampaikan dan koreksi kepada para peserta di kelas bagaimana sih sebaiknya tata cara pembuatan tugas itu. Artinya saya punya PR besar disini untuk membuat para peserta perkuliahan ini betul-betul ada rasa tanggung jawab moral ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Untuk itu saya masih memiliki waktu sekitar tiga bulan ke depan selama mengampu kelas ini agar membuat atmosfir kelas lebih menyenangkan dan semarak lagi agar semangat mereka tetap terjaga. Rencananya dalam waktu dekat ini sekitar tanggal 24 Desember 2017 para peserta Kelas Bunda Sayang Karawang Bekasi ini akan mengadakan kopdar dan mengundang fasilitator caturwulan pertamanya yaitu Miss Yuli dan saya sebagai fasilitator caturwulan kedua ini. Saya berharap semoga dengan diadakannya pertemuan ini akan mempererat bonding antar sesama peserta sehingga tidak ada lagi yang namanya silent reader karena merasa sungkan ataupun malu untuk bertanya dan berkomentar di grup. Hal yang berkesan adalah banyak orang-orang hebat dan menginspirasi yang ada di kelas ini namun kebanyakan dari mereka tidak terlalu mencolok dan menampilkan dirinya. Padahal secara pengalaman mereka sudah sangat kompeten di bidang yang mereka geluti saat ini.
"Pada titik ini saya pun akhirnya menyadari bahwa setiap kita adalah guru bagi dirinya sendiri dan juga bagi yang lainnya".
Sekian jurnal fasilitator yang dapat saya rangkum dan sampaikan selama saya berinteraksi dan mengobservasi kelas selama hampir dua bulan ini. Mohon maaf bila ada kata-kata dan penilaian saya yang menyinggung pihak lain, karena ini murni tidak ada niatan apapun. Semoga bisa diambil pengalaman dan manfaatnya. Terima kasih...

Sabtu, 18 November 2017

Bikin Tahu Bulat

Siapa yang belum tahu apa itu tahu bulat?
Tahu tidak bagaimana membuatnya? Soalnya kami penasaran kenapa tahu bulat bisa mengembang besar begitu ketika di goreng. Akhirnya bersama Tazki saya pun berselancar di dunia maya untuk mengetahui cara membuat tahu bulat itu seperti apa. Kami menemukan resep tahu bulat tersebut di www.cookpad.com dan segera kami mengeksekusinya. Lumayan juga yang menguras tenaga adalah ketika kita memeras tahu putih yang sudah dihancurkan untuk mengeluarkan air yang terkandung di dalamnya hingga sama sekali tahu tersebut tidak mengandung air sedikit pun. Kami membuatnya dalam adonan yang sedikit dahulu supaya bilamana gagal tidak terlalu kecewa karena sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Alhamdulillah setengah hari kita selesai mengeksekusinya karena disambi-sambi juga sih jadi agak lama selesainya. Dan adonan tahu bulat pun digoreng ketika malam hari saat ayahnya Tazsudah pulang kantor. Saat menggoreng beberapa lama kemudian wow tahunya mekar dan mengembang sempurna. Suka sekali akhirnya tidak gagal karena bisa mengembang. lumayan juga satu adonan yang kami buat menghasilkan kurang lebih 25 buah tahu bulat. Lumayanlah untuk mengganjal perut disaat udara sedang dingin-dinginnya seperti sekarang. ditambah dengan segelas teh manis hangat dicampur jeruk nipis cocok sekali menemani malam ini kami mengobrol seru sebelum beranjak tidur. Kali ini Tazki seinya tidak terlalu bersemangat bebikinan mungkin karena sedang merasa tidak enak badan sehingga ia lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktunya membaca buku saja.

Namun, ketika disiapkan tahu bulat bagiannya, buru-buru ia mencari plastik untuk memasukkan sebagian tahu bulatnya ke dalam plastik tersebut. Kemudian ia pun mencampurkan tahu bulatnya dengan bumbu yang biasa digunakan ketika ia memakan kentang goreng. Lalu segera menghampiri saya dan menawarkan tahu bulat berbumbu dengan rasa jagung bakar dan keju. Awalnya saya sempat menolak karena berpikir aneh pasti rasanya, namun ia memaksa saya untuk mencobanya dan wow enak sekali ternyata cila diberi bumbu walaupn tetap saja saya lebih menyukai makan tahu bulat polosan tanpa bumbu apapun. Malam ini ditutup dengan keceriaan dan juga rasa kenyang serta lelah selama seharian berjibaku untuk re-cooked  resep. Alhamdulillah semuanya senang...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

False Cebration

Kali ini saya akan bercerita mengenai kegagalannya Tazki dalam membuat bros handmade. Seperti yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya bahwa dia belum mahir dalam urusan menjahit manual. Nah, kali ini pun dia berencana ingin membuat kreasi bros dari kain perca dengan manik-manik yang seharusnya dijahit. Namun, dia pun memilih alternatif lain dengan menggunakan lem tembak ketimbang dijahit. Pastilah bisa ditebak hasilnya, yang mana menjadi sangat tidak rapi dan banyak noda lem di permukaannya. Sempat mengeluh dan menangis jengkel dikarenakan hasilnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Tapi saya berusaha menenangkannya bahwa wajar sekali jika kita mengalami suatu kegagalan dan itu mengajaekan kita untuk belajar dari kesalahan supaya tidak terulang lagi dan membuat kita dapat mengatur strategi di masa yang akan datang. Tetap saja saya jelaskan panjang lebar pun dia masih berfokus pada hasil crafting yang dirasanya kurang oke. Ya, tidak apa saya membiarkannya menangis dan mengomel karena kesal tidak berjalan seperti yang dia harapkan.

Setelah agak tenang pada malam harinya, kami membuka forum keluarga dan mengapresiasi usahanya serta memberikan support kepadanya agar tidak putus asa dan terus berkarya walaupun dihadang oleh beberapa kali kegagalan. Anggap saja kegagalan tersebut menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berharga kelak di masa yang akan datang. Kita pun merayakan momen false celebration ini agar mengajarkan padanya bahwa kegagalan dalam hidup itu lumrah adanya dan setiap orang pun pasti pernah mengalaminya. Kita rayakan dengan mengungkapkan kekecewaan, mimpi-mimpi, serta rencana apa saja yang akan masing-masing kami kerjakan ke depannya. Kami pun larut dalam momen ini, momen yang kami rasakan sebagai titik balik kami untuk melangkah dengan lebih baik lagi ke depannya.

Ah, ternyata tidak melulu kita mulus dan berhasil dalam mengerjakan tantangan di perkuliahan Bunda Sayang ini. Ada kalanya kita dapat mulus melewati tantangan demi tantangan setiap harinya dan sebaliknya terkadang di hari-hari tertentu tidak berjalan dengan baik dan seharusnya. Tidak mengapa asalkan kita tetap  keep on track saja dan berusaha melakukan semaksimal mungkin yang kita mampu. Dalam momen false celebration ini saya merasa mendapatkan energi yang baru dan juga makin mempererat bonding diantara kami. Semakin mengerti dan memahami harapan dan keinginan satu sama lain. Memang benar, hidup ini harus dimaknai dan dirayakan agar kita dapat meghargai setiap proses dan kehidupan. Keep moving forward!!

Hadiah Untuk Ayah Bunda

Kaget itu waktu kami mau pergi keluar kota tiba-tiba di kaca spion tengah mobil tergantung beberapa kertas berwarna yang seolah-olah seperti hiasan mobil. Kertas lipat berwarna merah dan uning menggantung bebas dan menghiasi interior mobil kami. Sudang pasti siapa lagi yang membuat ini kalau bukan anak semata wayang kami, Tazkiya. Dengan bentuk menyerupai hati dan ice cream gantungan tersebut menggantung bebas di bawah spion tengah ketika mobil kami sedang melaju di jalanan. Saya pun mengucapkan syukur dan terima kasih sekali atas kerja kerasnya membuatkan ini untuk kami berdua. Dia pun bercerita bahwa ingin memberikan kami hadiah namun bingung, hadiah seperti apa yang ayah bunda sukai. Akhirnya punya ide ketika kami beberapa waktu lalu menumpang mobil teman saya ketika akan mendatangi pelatihan keju di Semarang bagian bawah. Nah, dalam mobil teman saya itulah Tazki melihat ada gantungan di bawah spion tengah itu berbentuk botol kaca kecil dan gantungan bertuliskan kalimat tauhid. Kebetulan di mobil kami tidak memiliki hiasan seperti itu, maka dia berinisiatif ingin membuatkannya untuk kami. Wah, perhatian sekali kamu, Nak. Terima kasih ya...

Kadang kita sebagai orang dewasa lebih kalah kreatifnya ya dibandingkan dengan anak-anak. Kita cenderung lebih memilih cara simple dengan membeli ketimbang meluangkan waktu sedikit untuk berkreasi. Benarlah kiranya bahwa anak-anak adalah sumber kreatifitas sejati, tidak pernah ada matinya ide-ide di kepala mereka. Malah anak-anak biasanya tidak takut menghadapi kegagalan dibanding kita yang selalu menghitung-hitung manajemen resikonya. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Tazki bukanlah hal yang wow, namun keberaniannya untuk berkreasi dan perhatiannya kepada kamilah yang membuat karyanya tampak mempesona dan menghipnotis kami berdua. Karena belum tentu saya sebagai orang dewasa pun punya pikiran dan niatan membuat gantungan seperti itu yang pastinya dalam pikiran saya masih banyak hal yang bisa saya kerjakan selain membuat ini. Namun ternyata bagi anak-anak tidak ada yg namanya tidak berguna apalagi buang waktu. Patutlah kiranya kita mencontoh semangat anak-anak dalam mengerjakan sesuatu hal.

Sepanjang jalan pun dia bertanya kepada kami apakah kami merasa senang dengan hadiah darinya? Spontan kami pun menjawab bahwa kami senang dan selalu menunggu-nunggu hadiah darinya. Tampak sekali dari raut mukanya memperlihatkan rasa puas dan bangga akan pencapaiannya. Saya pun mengambil pelajaran untuk tidak gampang mematahkan semangatnya serta ide-idenya, barangkali dari pemikiran yang sederhana akan tercipta suatu mahakarya yang dinanti-nati oleh dunia. Semoga kami sebagai oragtuanya bukanlah menjadi faktor yang menjegal apalagi membuat dirinya menjadi pribadi yang tidak inisiatif dan tidak kreatif. Tetaplah berkarya ya, Nak! Berikan yang terbaik untuk duniamu saat ini dan nanti.

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Menyulap Kapstok Bekas Menjadi Gantungan Multifungsi

Kemarin kami sekeluarga mengunjungi supermarket ADA yang berada di Kota Semarang. Sebenarnya kami mengunjungi supermarket ini karena ada beberapa kebutuhan yang harus saya beli karena berkenaan dengan adanya pesanan Mango Drink dari teman saya. Ternyata setelah saya cek di rumah ada beberapa bahan yang habis sehingga kami pun berencana mengunjungi supermarket tersebut selain harga barangnya harga grosir dan letaknya pun dekat dari kediaman kami. Setelah setengah jam kami berkeliling mencari barang-barang yang kami butuhkan dan memutuskan untuk segera membayarnya di kasir. Tiba-tiba anak kami meminta izin kepada ayahnya untuk dibelikan kapstok atau gantungan untuk tas-tasnya dikarenakan kapstok yang ada di kamarnya sudah banyak yang potong karena menyangga banyak tas dan pernak-perniknya. Kami pun segera mencari kapstok yang dibutuhkan dan segera membayar semua belanjaan kami di kasir.

Ketika sesampainya di rumah pun anak kami langsung mengambil paku dan palu dan mencoba memasangnya sediri. Karena merasa miring hasil pengerjaannya, akhirnya dia meminta ayahnya untuk bantu memasangnya. Setelah selesai dipasang oleh ayahnya lalu ia pun mulai mengutak-atik kapstok bekas yang sebelumnya. Saya katakan untuk membuangnya saja namun ia tidak berkenan membuangnya dan tetap bersikukuh untuk memanfaatkan kapstok tersebut menjadi sesuatu. Dia pun kemudian meminjam smartphone milik ayahnya untuk dipakainya melihat tayangan DDo It Yourself (DIY). Biasanya jika dia kehabisan ide selalu melihat tayangan video tersebut di Youtube. Setelah hampir satu jam lebih menonton tayangan Di It Yourself  (DIY) akhirnya ia meminta tolong ayahnya untuk berkenaan memotongkan kawat lentur yang ada di gudang belakang rumah. Dan mereka berdua pun larut dalam kesibukannya membuat kreasi dengan memanfaatkan kapstok bekas tersebut. Terdengr debat antara ayah dan anak, rengekan anak kami, serta suara canda tawa mewarnai aktivitas sore mereka.

Tidak berapa lama akhirnya Tazki datang menghampiri dan menunjukkan hasil karyanya duet bersama ayahnya. Sederhana sekali sih sebenarnya malah tidak terkesan waw namun saya sangat terkesan sekali ketika dia menunjukkan bahwa kapstok bekas tersebut sebagai media kaleng-kaleng bekas wadah biskuit dan permen yang dikaitkan oleh kawat lentur agar bisa tergantung di kapstok tersebut. Ketika saya tanyakan apa fungsi barang ini? Dia menjelaskan bahwa kaleng-kaleng tersebut sebagai wadah penyimpanan apa saja. Misalnya menyimpan alat tulis, pin, karet, logam, dll agar tidak berserakan tersebar dimana-mana. Wah, keren sekali idenya walaupun sederhana namun memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Terus berkarya ya, Kak! Kamu keren deh...

#tantangan10hari
#level9
#keliahbunsayiip
#thinkcreative

Berkreasi Membuat Box Penyimpanan Buku

Adakah yang sudah pernah membaca buku karangan Marie Kondo yang berjudul "The Life-Changing Magic of Tidying Up" yang menjadi salah satu buku best seller  di seluruh dunia. Marie Kondo dikenal sebagai konsultan yang ahli dalam seni berbenah rumah maupun kantor yang berasal dari Jepang. Dia memperkenalkan suatu metode merapikan yang ampuh tiada duanya yang disebut teknik KonMari. Keampuhan metode KonMari ini telah membuat hampir seluruh klien Marie Kondo bisa terbebas dari kondisi berantakan di rumahnya akibat menumpuknya barang-barang yang tidak terpakai namun masih saja disimpan karena terkait rasa sayang jika dibuang atau diberikan atau juga ada sisi emosional yang terkandung dalam barang tersebut. Nah, saya menghabiskan waktu selama sepekan untuk membaca dan mencermati setiap tulisan dan metode yang dipaparkan di dalam bukunya tersebut. Kemudian saya buatkan resumenya untuk saya berikan kepada suami agar dijadikan project keluarga. Melihat rumah rasanya sudah penuh dg barang-barang yang tidak diperlukaj namun bingung apakah harus disingkirkan atau tidak. Juga ada satu hal yang membuat saya bersemangat tentang pemaparan dari Marie Kondo bahwa, "Berbenah rumah adalah salah satu cara kita mendetok diri kita sendiri". Jadi penasaran apakah benar dengan berbenah maka kita akan merasa "lahir" kembali? Jadi mari segera kita eksekusi saja!

Pada berbenah rumah kali ini fokus saya adalah menyortir semua pakaian kami yang sudah tidak lagi muat dipakai, modelnya sudah tidak kami sukai, dan pakaian yang selama 6 hingga 12 bulan terakhir ini sama sekali tidak kami sentuh maupun kami pakai. Ternyata mencengangkan sekali bahwa selama hampir 5 hari saya menyortir pakaian yang ada di rumah, saya mendapatkan fakta bawa ada 6 hingga 7 dus besar yang harus kami singkirkan dari dalam lemari. Ditambah sepatu-sepatu dan tas yang tidak terpakai sebanyak 2 bungkusan besar. Pun buku-buku banyak juga yang sudah tidak pernah kami sentuh dan sampai berdebu karena tidak pernah kami baca. Mau tidak mau kami pun kerja bakti menyingkirkan barang-barang tersebut dari dalam rumah dan hasilnya rumah menjadi lebih banyak memiliki space kosong serta terlihat lebih fresh dan entah mengapa pikiran saya pun merasa lebih ringan dan bahagia. 

Berbenah pun akhirnya berdampak pada kamar Tazki juga yang memang tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kebiasaannya adalah mengoleksi barang-barang bekas yang dianggap unik, lucu, ataupu bisa di daur ulang kembali. Namun saya pun akhirnya memberi batasan barang-barang apa saja yang harus dibuang dan oleh disimpan di dalam kamar. Dia pun menyetujuinya dan segera ikut berbenah di kamarnya. Banyak buku-buku yang menjadi koleksinya yang akhirnya harus disingkirkan dan hanya meningggalkan beberapa buku saja. Karena merasa agak berantakan dan terlihat kurang rapi, dia pun segera mengambil kardus bekas yang biasa kami dapatkan ketika kami habis berbelanja di supermarket karena kami memilih menggunakan dus saja sebagai pengganti kantung plastik. Seperti biasa ia asyik berkarya dengan dus-dus bekas tersebut. Meminta beberapa lembar ribuan kepada saya untuk dibelikan kertas kado dan selotip di warung dekat rumah. Setelah selesai berkreasi akhirnya jadilah dus tersebut menjadi wadah penyimpanan koleksi-koleksi bukunya agar terlihat rapi dan tidak berserakan.

Saya dan ayahnya pun sangat tercengang sekali melihat hasil kreasinya membuat wadah buku tersebut. Karena saya sendiri lebih memilih utuk membeli alat penjepit dan pembatas untuk buku supaya bisa rapi ketika dijajarkan di dalam rak penyimpanan buku. Namun, lain halnya dengan anak kami yang lebih senang memanfaatkan apa yang ada di rumah ketimbang membeli sesuatu yang baru. Sekali lagi ini membuat saya yang orang dewasa saja menjadi malu karena sama sekali tidak kreatif dalam memanfaatkan sesuatu atau bahkan tidak terlintas untuk menciptakan sesuatu. Rasanya lebih mudah membeli saja dibanding harus membuat. Terus berkarya ya, Nak! Kami selalu menjadi penggemar setia setiap karya-karyamu...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Jepit Rambut Fenomenal

Waktu saya ajak Tazki ikut Kelas Blogging  bareng teman-teman IIP Semarang yang berlangsung di kantor Biznet Semarang. Tazki tidak sengaja menemukan jepit rambut yang tergeletak begitu saja di lantai ketika dikonfirmasi kepada orang-orang yang hadir disitu pun tidak ada yang merasa jepit rambut tersebut adalah miliknya. Akhirnya Tazki memutuskan untuk mengambil jepit rambut tersebut dan di make over ketika sampai di rumah. Kenapa dia mau make over jepit tersebut? Karena hiasan atas jepit tersebut hilang sehingga terlihat polos dan kurang cantik untuk dipakai. Maka, dia pun langsung bereksperimen di dalam kamarnya untuk menghias jepit rambut tersebut. Keluar masuk kamar kami mencari kain perca yang biasa saya simpan di sela-sela keranjang baju yang belum disetrika. Kemudian mencari kancing di tempat penyimpanan kancing-kancing yang biasa saya simpan bila menemukan kancing yang lepas dari pakaian yang belum sempat saya jahit kembali. 

Sepertinya dia asyik dan tenggelam dalam eksperimennya, di lantai kamarnya berserakan kain-kain perca, benang, gunting, lem tembak, dll. Sesekali dia menghampiri saya hanya untuk meminta bantuan saya memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Menanyakan kepada saya bagaimana caranya menjahit untuk menempelkan kancing di atas kain dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang ia lontarkan mengenai proses menjahit dengan tangan. Namun sepertinya ia agak kesusahan dalam menjahit kancing-kancing tersebut dan mengeluh kepada saya agar mau membantunya menyelesaikan eksperimennya. Saya menolaknya dan meminta dia untuk mencobanya lagi sendiri karena ini sangat mudah. Akhirnya dia pun meninggalkan saya dan kembali berjibaku di dalam kamarnya. Tidak selang berapa lama dia pun segera menghampiri saya dan menunjukkan hasil karyanya dan bercerita dengan girang bahwa dia memilih metode menempelkan kancing tersebut dengan menggunakan lem tembak saja supaya lebih mudah dibandingkan dijahit. Wah, keren juga idenya walaupun sebenarnya sederhana dan simple tapi saya sangat mengapresiasi sekali jerih payah serta proses yang telah dia lewati. Bangga sekali ketika dia akhirnya memiliki solusi untuk mengatasi kesulitannya tersebut tanpa rewel dan putus asa karena permintaannya untuk dibantu saya tolak.

Jepit rambut fenomenal pun akhirnya sukses tersemat di rambutnya dan selalu dia pakai kemana pun bahkan dalam tidur sekalipun. Lucu sekali melihatnya berbinar ceria menceritakan proses pembuatannya kepada ayahnya dan memamerkan hasilnya di depan kami sambil menceritakan bagaimana ide make over  itu muncul di pikirannya. Ternyata memang anak-anak adalah sumber kreatifitas yang tak berbatas selama kita tidak menghalanginya dalam menuangkan dan merealisasikan setiap ide-ide yang terlintas di pikirannya. Selamat mendampingi ananda dengan rileks dan optimis ya...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Nasi Goreng a la Chef Tazki

Sudah dua hari ini hujan mengguyur Kota Semarang dengan derasnya dan bersyukur sekali udara menjadi lebih sejuk walaupun membuat saya akhirnya malas bergerak dan beranjak dari kamar. Ditambah kondisi badan yang kurang fit membuat saya malas untuk memasak. Rasanya ingin merebahkan diri saja di atas tempat tidur sepanjang hari. Untungnya saya selalu menyediakan frozen food bilamana saya tidak sempat memasak maka tidak perlu khawatir karena lauk pauk untuk makan sudah tersedia di dalam freezer hanya tinggal menggoreng atau menghangatkannya saja. Malam harinya ketika waktunya makan malam ternyata Tazki menyampaikan keluhannya bahwa ia bosan makan makanan froozen  lagi sehingga dia berinisiatif untuk membuat nasi goreng dengan resep sendiri dan tanpa dibantu oleh kami orangtuanya.

Saya sendiri tidak terlalu percaya diri dalam membuat nasi goreng dikarenakan menurut lidah saya sendiri, nasi goreng buatan saya tidak terlalu enak dan entah kenapa dalam membuat sambel pun selalu kurang nendang gitu rasanya. Makanya saya sangat jarang membuat olahan nasi goreng maupun sambel. Ketika saya ingin makan nasi goreng pun biasanya suami yang turun tangan untuk membuatkan. Dari awal saya mencoba nasi goreng buatannya sudah cocok di lidah saya dan anak kami. Jadi bila ditanya makanan favorit kami apa? Ya, salah satunya adalah nasi goreng buatan Ayah Lukman.

Kembali lagi ke momen Tazki mengolah nasi gorengnya sendiri, saya pun tidak berusaha memberi tahu apalagi memandunya. Entah bumbu apa saja yang ia masukkan dan campurkan ke dalam masakan nasi gorengnya namun dari kamar pun tercium aroma wangi masakannya. Setelah hampir setengah jam menunggunya memasak, akhirnya saya bisa mencoba nasi goreng a la Tazkiya yang sangat fenomenal. Ternyata sungguh diluar dugaan rasanya sangat enak sekali dengan bumbu yang sepertinya tidak lazim digunakan dalam membuat nasi goreng kebanyakan. Dia pun mengungkapkan bahwa nasi gorengnya tidak diberi garam jadi rasa asin di dapat dari kecap asin. Kemudian dia penasaran dengan kecap inggris seperti apa rasanya lalu eksperimen juga menambahkan kecap inggris ke dalam nasi gorengnya dan diberi sedikit saos tiram. Memang rasanya sedikit aneh karena banyak item bumbu yang ditambahkan, tapi sejauh ini rasanya enak dan bikin saya tambah lagi lho hehehe...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Mengatasi Sprei Yang Kebesaran

Bulan Oktober kemarin saya mendapatkan hadiah sprei dengan motif shabby dari suami saya, kebetulan ketika sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan beliau tidak sengaja melihat-lihat ke bagian perlengkapan kamar dan salah satu raknya memajang banyak sekali sprei dari berbagi motif juga merk. Karena beliau mengetahui saya penggemar shabby  dan ternyata ada sprei motif shabby  di dalamnya maka beliau berinisiatif untuk membelikannya. Namun sayang ukurannya terlalu besar untuk tempat tidur kami yang berukuran 160x200 cm sedangkan sprei tersebut berukuran 200x200 cm. Alhasil kebesaran dan sangat sulit rapi ketika akan dibereskan di keesokan hari. Saya pun beberapa kali mengeluh dengan sprei yg kebesaran tersebut karena ketika dibereskan dan dirapikan ternyata sprei tidak kencang malah banyak lipatan di bagian tengah dan pinggirnya akibat kebesaran.
Nah, karena beberapa hari ini saya agak malas merapikan tempat tidur akhirnya suami saya yang terkadang menggantikan tugas saya sementara untuk merapikan tempat tidur. Entah bagaimana anak kami bisa tahu bahwa sprei ini sering saya keluhkan. Tiba-tiba di suatu pagi ia langsung masuk ke kamar kami dan membuka sprei dan mengutak-atiknya. Saya hanya memperhatikan saja dari balik pintu kamar karena saya sedang sibuk saat itu mengerjakan pesanan yoghurt yang akan diambil sore nanti. Tiba-tiba Tazki berteriak memanggil saya unuk melihat ke dalam kamar saya. Tak disangka ternyata tempat tidur kami rapi dan spreinya pun kencang serta tidak terlihat banyak lipatan di bagian pinggir-pinggirnya.

Saya pun penasaran mengapa bisa rapi seperti itu, Kak? Ternyata sprei yang ada jahitan karet dipinggir-pinggirnya dia pasang di bagian kasur yang lebih panjang di kedua sisi sampingnya sehingga yang tidak dijahit karet dipasang di sisi pendeknya kasur yang mana membuat kasur menjadi rapi dan mudah untuk diatur. Wah, langsung deh saya speechless tidak menyangka anak sekecil ini bisa memiliki ide yang wow. Saya sebagai orang dewasa saja malah tidak terpikir cara seperti itu. Terima kasih ya Kak dengan ide cemerlangnya...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Make Over Buku Agenda Jadul

Belum lama ini Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang mewajibkan semua kordinator dan jajaran pengurus kota untuk wajib mengikuti kelas Public Speaking yang dilaksanakan setiap Hari Sabtu pukul 10.00 - 12.00 WIB yang difasilitatori oleh Mbak Indah Laras. Kebetulan beliau sudah belasan tahun bergelut di bidang penyiaran dimana banyak sekali pengalaman dan jam terbang yang telah dilewati oleh beliau sehingga pantas kiranya beliau diberikan amanah untuk berbagi dan mengajarkan sedikit ilmunya kepada rekan-rekan koordinator IIP Semarang. Sebenarnya bukan tanpa sebab kelas Public Speaking ini diadakan, karena ada tawaran dari pihak radio dan televisi lokal Kota Semarang yang menawarkan untuk disediakan jadwal rutin dan khusus bagi IIP Semarang untuk mensosialisasikan mengenai komunitas ini sehingga diharapkan banyak para wanita baik yang belum menikah, calon ibu, bahkan yang sudah menjadi ibu bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan komunitas Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang ini. Alhamdulillah, karena ini merupakan suatu tawaran yang baik untuk komunitas ke depannya sehingga diharapkan banyak para wanita yang bisa ikut bergabung di IIP Semarang ini.

Seperti biasa kemana saja saya pergi pastilah anak semata wayang kami selalu saya ajak ikut serta menemani hari-hari saya beraktivitas. Seperti halnya hari ini anak kami pun saya ajak mengikuti kelas Public Speaking ini, walaupun ketika sampai tempat acara ia lebih tertarik untuk menggambar, bermain bersama teman-teman lainnya, dan juga asyik menonton tayangan Five Minute Creatives  di Instagram saya. Memang sedari usianya menginjak 6 tahun Tazki lebih tertarik dengan aktivitas crafting apalagi bila membuat aneka Do It Yourself (DIY). Yang mana dia lebih senang memanfaatkan barang-barang bekas untuk dimanfaatkan dan digunakan kembali. Layaknya kita menerima materi, hal yang biasa saya lakukan adalah mencatat setiap materi yang disampaikan oleh narasumber tersebut di buku agenda saya. Dan sudah beberapa kali saya dimintai Tazki untuk bersedia membelikannya buku agenda yang memiliki gembok seperti diary  jaman saya kecil dulu sangat familiar sekali dengan agenda tersebut karena hampir semua teman-teman saya memilikinya. Namun selalu tidak saya luluskan keinginannya mengingat melihatnya yang jarang dan malas jika disuruh menulis. Maka, saya pun berpikir untuk apa saya membelikannya bila nanti malah mubadzir.

Sepulang dari saya mengikuti kelas Public Speaking seperti yang sudah-sudah Tazki kembali meminta saya unuk mau membelikannya buku agenda seperti saya. Kemudian saya berikan penjelasan dan pengertian bahwa buku agenda belum terlalu dibutuhkan untuk anak seusianya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menerimanya dan ersikukuh bahwa dirinya saat ini membutuhkan agenda tersebut. Akhirnya saya pun mencari-cari di dalam dus alat-alat tulis suami yang baru saja diangkutnya dari kantor yang lama dan Alhamdulillah senang sekali akhirnya saya menemukan buku agenda yang tidak terpakai namun masih belum ditulis apa-apa. Sepertinya juga ini adalah buku agenda baru karena masih dalam bungkusan plastik dan saya pun menawarkannya kepada Tazki. Responnya dia tidak suka dengan motifnya yang dia bilang bahwa motif agendanya seperti untuk orangtua dan dia pun menolaknya. Akhirnya saya merayunya hingga akhirnya dia berkenaan untuk memakainya sebagi buku agendanya. Sebenarnya yang dia inginkan adalah buku agenda yang memiliki kancing dan tempat untuk menyelipkan pulpen persis seperti yang saya miliki.

Setelah saya berikan agendanya itu kemudian dia langsung dengan cekatan meminta ijin pada saya untuk meminjam alat jahit dan sebuah kancing yang saya belum sadar mau dijadikan apa kancing tersebut. Setelah satu jam lebih dia mengurung diri di kamar, akhirnya dia memberikn saya kejutan berupa buku agendanya dia tambahkan kancing pengait seperti buku agenda yang saya miliki. Terlihat kegembiraan dan binar mata yang memancar penuh semangat dalam tatapannya kepada saya ketika menyodorkan buku agendanya yang telah dia sulap menjadi apa yang dia inginkan. Senang sekali rasanya dia bisa menemukan solusinya sendiri dengan tidak memaksa saya untuk memenuhi keinginannya. Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu melimpahkan ide-ide dan gagasan yang bermanfaat bagi dirimu dan banyak orang. Aamiin...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Let's Be Creative...

Kira-kira apa yang harus kita lakukan supaya kreatifitas itu bisa muncul dalam diri kita?

Benarkah kebanyakan anak-anak hilang kreatifitasnya disebabkan oleh faktor campur tangan orangtuanya?

Dua pertanyaan tersebut saja sudah berputar-putar di otak saya selama saya membaca hasil diskusi Kelas Bunda Sayang yang dipandu oleh Ibu Septi sebagai fasilitator kami selama menjalani perkuliahan hingga 12 bulan ke depan. Ada beberapa artikel dan slide show yang diposting di grup oleh beliau mengenai kreatifitas pada anak ini. Dalam artikel tersebut menyebutkan salah satunya orangtua dan sekolah formal sebagai faktor yang mematikan kreatifitas anak-anak. Saya pun merasa jleb setelah membaca artikel tersebut, karena merasa apa yang dipaparkan benar adanya selama ini. Teringat oleh saya perihal batasan-batasan dan feedback negatif yang kadang sering saya ucapkan pada anak kami ketika ia sedang mencoba sesuatu hal yang belum pernah dia coba sebelumnya. Atau ketika anak-anak mengerjakan tugas hariannya dengan diselingi beberapa inovasi yang tidak sesuai dengan cara-cara sebelumnya, pasti saya langsung cut dan melakukan interupsi. Dan seharusnya itu tidak perlu saya lakukan karena hal-hal seperti itu jelas-jelas mematikan jiwa kreatifitasnya secara perlahan dan pasti. Untuk itu saya sadar dan harus segera berubah supaya anak-anak memiliki jiwa yang merdeka dalam berpikir, bertindak, dan berkarya tanpa harus takut untuk gagal. Oke, mulai saat ini saya harus berjanji pada diri saya sendiri untuk stop mengintervensi dalam bentuk apapun selama apa yang dilakukan anak-anak masih aman dan on the track. Karena anak sudah lahir kreatif maka kita sebagai orangtua yang harus belajar kreatif, maka cara pertama yang harus dilakukan adalah ubah fokus dan geser sudut pandang. Bismillah...

Kemudian saya segera mengadakan forum keluarga untuk menyampaikan materi yang telah saya dapatkan dan meminta seluruh anggota keluarga untuk memberikan respon mengenai materi tentang mengembangkan kreatifitas ini. Dan hasilnya adalah anak kami pun mengalirkan rasa mengenai apa yang menjadi ketidaksukaannya kepada saya ketika dirinya sedang ingin berkarya dan mencoba-coba sesuatu. Dan saya pun meyadari kekeliruan saya selama ini dan meminta maaf karena dahulu saya belum tahu ilmunya sehingga banyak hal yang tidak seharusnya saya lakukan malah dilakukan dengan sadar kepada anak-anak. Namun, Alhamdulillah anak kami pun menerima permintaan maaf dari kami orangtuanya dan mulai mengeluarkan ide dan gagasan yang ada dalam pikirannya. Kami pun serius memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama, ternyata keren-keren juga idenya untuk anak yang sebulan lagi akan menginjak usia 9 tahun. Tidak menyangka besar sekali mimpi-mimpinya, ah..Nak, kamu membuat Bunda menjadi malu dan kecil hati. Semoga terkabul apa yang engkau cita-citakan ya, Nak...

Setelah forum keluarga ditutup tiba-tiba anak kami meminta izin untuk mengambil dus bekas yang baru saja dijadikan wadah belanjaan ketika kemarin kami habis berbelanja di supermarket. Saya pun bertanya mau dibuat apa dus tersebut, namun dia tidak menjawab hanya sibuk dan tenggelam bersama alat-alat tulis yang berhamburan di lantai. Sesekali saya menengoknya di dalam kamar untuk tahu apa yang sedang dia kerjakan, namun sayang saya benar-benar tidak punya gambaran sedikitpun dus tersebut akan menjadi apa. Dalam hati saya bergumam, paling juga dus tersebut mau dibuat pigura oleh anak kami. Hampir 3 jam belum juga selesai pekerjaannya namun saya yakin itu adalah sebuah pigura untuk memajang foto. Entah mengapa dia mengambil jeda dan mengeluh bahwa dia tidak bisa membuat bolongan pada dus tersebut sembari sedikit mengeluarkan air mata. Saya tawarkan bantuan namun dia berkata bahwa hanya ayahnya yang bisa. Baiklah, saya mengalah dan mengajaknya istirahat meninggalkan pekerjaannya sejenak. Namun dia tidak mau dan tetap ingin menyelesaikan pekerjaannya tersebut hingga akhirnya saya tahu bahwa dia sedang membuat replika televisi layar datar hahaha... Padahal saya menyangka itu adalah sebuah pigura foto tapi ternyata dia membuat mainan televisi layar datar karena beberapa pekan lalu kami sekeluarga baru saja menginap di hotel karena sedang melakukan perjalanan keluar kota. Dari situlah anak kami memiliki keinginan ada televisi di kamarnya seperti yang dia lihat di kamar hotel saat itu. 

Akhirnya setelah ayahnya pulang kantor, anak kami meminta bantuan ayahnya untuk membantu menyelesaikan hal-hal yang dia rasa kesulitan untuk dikerjakan sendiri. Dan akhirnya sebelum pukul 21.00 televisi dari kaedus pun sudah terpasang dengan cantik di kamarnya. Senang dan terharu sekali melihat kegigihannya menyelesaikan apa yang dia pikirkan dan inginkan, walaupun ada drama di dalamnya tapi Alhamdulillah dia bisa melewati semuanya. Barakallah, Nak...

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative

Sabtu, 17 Juni 2017

Dengan Membaca Buku Aku Bisa Melihat Dunia

Terkadang saya sebagai orangtua sering dikagetkan dengan pengetahuan yang Kakak ketahui tanpa pernah saya merasa memberitahukannya. Sebenarnya masih dalam tahap pengetahuan yang sederhana sih bukan yang wow begitu. Hanya saja terkadang saya sebagai orangtua merasa surprised ketika tahu bahwa anak saya tahu tentang sesuatu hal. Ternyata tak lain dia tahu itu melalui hasil membaca dari sebuah buku atau malah kadang dia dapatkan itu dari acara youtube. Namun, yang saya akhirnya sepakat adalah bahwa, dengan membaca kita dapat melihat dunia tanpa batas melewati dimensi ruang dan waktu. Dengan membaca kita semakin kaya akan ilmu dan pengetahuan serta wawasan kita semakin berkembang mengikuti apa yang kita pernah baca. Seperti quote yang baru-baru ini saya dapatkan, "you're what you read". Dan sejatinya itu benar adanya bahwa kita adalah menjadi apa yang kita baca, sehingga bila ingin mengetahui wawasan seseorang salah satunya adalah dengan menanyakan buku apa yang terakhir dia baca, maka kita pun akan tahu seperti apa wawasan orang tersebut.

Jumat, 16 Juni 2017

Ketika Virus Membaca Menjangkiti Ayah Lukman

Kali ini saya akan menuliskan pengalaman membaca yang dilakukan oleh suami saya. Membaca adalah momok menakutkan dan sangat dihindari sekali oleh suami saya sedari kecil hingga saat ini. Ketika ditanya alasannya mengapa tidak senang membaca? Beliau menjawab bahwa membaca membuatnya merasa mengantuk dan sepanjang hidup hanya kuat membaca maksimal 10 halaman tidak lebih. Padahal menurut saya membaca itu mengasyikan asalkan kita memilih buku yang sesuai dengan minat kita sendiri sehingga akan terasa menyenangkan menghabiskan waktu dengan melahap halaman demi halaman hingga tanpa terasa buku pun khatam dibaca.

Nah, dimulai tadi sore sepulang kantor tiba-tiba suami menghampiri saya dan meminta tolong agar saya bersedia mengirimkannya e-book Fitrah Based Education (FBE) karangan Ustadz Harry Santosa salah satu founder komunitas Home Education based on Akhlaq and Tallents (HEbAT). Saya pun kemudian mengirimkan e-book tersebut kepada suami saya dan tidak memiliki harapan apakah akan dibaca atau tidak karena memang saya sudah tahu bahwa suami saya tipikal yang sangat malas untuk membaca buku. Untungnya beliau masih bisa tahan jika membaca sebuah artikel atau resume asalkan bukan buku yang memiliki puluhan bahkan ratusan halaman. Ternyata tanpa saya sadari suami saya embaca dengan khusyuk e-book tersebut hingga beberapa lembar dia baca. Spontan membuat saya kaget dan bertanya-tanya, "Yah, kok tumben serius bacanya?" tanya saya. Beliau pun menjawab bahwa dirinya merasa butuh dengan ilmu mengenai Home Education (HE) secara lebih mendalam lagi karena kita butuh ilmu ini.

Ternyata memang benar bahwa jika seseorang merasa butuh akan sesuatu maka dengan otomatis akan mencari tahu mengenai keingintahuanny tersebut. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah memfasilitasi bahan bacaan di rumah dan uga memberikan contoh nyata bahwa memang kita pun senang dengan aktivitas membaca tersebut. Barangkali anak dan pasangan kita tergerak ingin mengikuti kebiasaan baik kita ini. Selamat membaca...

Kamis, 15 Juni 2017

Belajar Tentang Story Telling

Siang tadi tidak sengaja kami menemukan sebuah buku tentang habitat dan perkembangbiakkan berbagai macam binatang di sebuah buku berjudul "Binatang Di Sekitar Kita". Kakak pun tertarik ingin sekali membacanya kembali namun sepertinya malas jika harus membaca sendiri, entah mungkin karena tadi siang sangat terik sekali sehingga membuat Kakak enggan untuk banyak bergerak. Akhirnya saya menawarkan untuk membacakan buku tersebut, namun dengan syarat setelah bukunya selesai dibaca Kakak mau menceritakan kembali apa isi dalam buku tersebut. Dia pun mengangguk setuju dan akhirnya berlanjut saya membacakan buku tersebut.

Ternyata isi dalam buku tersebut menarik juga lho, banyak hal yang saya tidak tahu sebelumnya dan malah menjadi tahu setelah membaca buku ""Binatang Di Sekitar Kita" ini. Dan Kakak pun mendengarkan dengan antusias sekali apa yang tengah aku bacakan dengan sesekali bertanya dan menimpali. Kemudian setelah saya menyelesaikan membacakannya, tibalah Kakak yang bergantian untuk Story Telling. Walaupun tidak terlalu runut  dan detail dalam menceritakan kembali, namun untuk poin-poin pentingnya Kakak sudah bisa mengingat dan menggambarkan dengan baik. Hanya perlu latihan kembali supaya lebih luwes, runut, dan tidak terburu-buru. Untuk keseluruhannya saya acungi jempol karena bisa mengingat dengan baik apa yag telah saya bacakan dan bisa menceritakn kembli dengan pemahamannya sendiri dengan gaya bahasanya sendiri. Bravo Kakak!!

Rabu, 14 Juni 2017

Sekilas Tentang Negara Uzbekistan

Dalam 2 tahun terakhir ini kami memang lebih sering bepergian baik jarak dekat maupun jarak jauh, baik ke kota sebelah ataupun kota lainnya. Entah mengapa kami mulai menemukan bahwa keluarga kami senang berkelana ke tempat-tempat baru dan menemui orang-orang baru. Rasanya mengasyikan sekali karena kita dapat mengambil banyak manfaat dan pengalaman kita pun semakin bertambah, terlebih lagi yang betul-betul kami rasakan adalah kematangan emosional kami sebagai individu itu sendiri. Setelah pulang pun rasanya jiwa dan pikiran kami menjadi fresh lagi dan tentunya semangat pun menjadi terbarukan.

Nah, hari ini Kakak memilih untuk membaca buku karangan Ibu Lenggogeni Halilintar yang ketiga dimana di buku tersebut dijelaskan banyak mengenai sebuah negara yang bernama Uzbekistan. Apa kalian pernah mendengarnya? di buku tersebut banyak mengupas tentang kearifan lokal di negara tersebut yang tentunya membuat saya jadi ingin sekali berjalan-jalan dan mengunjungi negara tersebut di suatu hari nanti. Semoga Allah SWT meridhoi keinginan ini. Aamiin..


Selasa, 13 Juni 2017

"Buku Favoritku Salah Satunya Adalah Karangan Budhe Aan, Bunda"..

Siang tadi aku bertanya pada Kakak mengenai buku apa yang akan dibacanya hari ini?
Dia berkata, "Bunda kalau hari ini boleh ya Kakak nggak baca buku dulu? Kakak maunya ngobrol saja sama Bunda, boleh?" ujarnya meminta izin padaku. Akhirnya aku izinkan dia untuk tidak membaca buku hari ini, mungkin memang sedang tidak berselera untuk membaca. 

Kemudian kami mengobrol mengenai banyak hal, dari mulai nama keluarga hingga nostalgia teman-teman SD. Mungkin memang dia sedang butuh curhat, hehehe...
Bisa saya maklumi karena mungkin dia kesepian selama Bulan Ramadhan ini anak-anak jarang keluar untuk sekedar bermain seperti biasa. Mungkin khawatir kelelahan dan kehausan sehingga nanti malah rewel minta berbuka.

Saya pun mengajaknya membuat Mango Drink karena kebetulan ada teman saya yang pesan sebagai ta'jil untuk berbuka puasa. Alhamdulillah senang rasanya seperti berkah di Bulan Ramadhan. Kakak pun membantu saya membuat jelly, membersihkan botol yang akan menjadi kemasannya, dan membantu saya membuat kuah mango. Rasanya terbantu sekali Kakak ikut berpartisipasi membantu saya membuat pesanan dan ternyata memang ada hal yang ingin dia wujudkan dan entah apa itu, yang pasti dia membuat kesepakatan dengan saya bahwa dia bersedia membantu saya asalkan dia diberi 'uang lelah' katanya. Duh, bocah ada-ada saja ckckck...

Saat saya hendak membereskan semua perlengkapan yang dipakai membuat Mango Drink, rupanya saya melihat Kakak sedang enjoy membaca dan membuka-buka buku "Komik Akhlak Al-Qur'an" karangan Aan Wulandari dan Dian K. padahal baru saja beberapa jam yang lalu bilang bahwa ingin libur dulu membacanya tapi ternyata malah tetap asyik seperti biasa membaca buku-buku yang menampilkan gambar-gambar visual yang menjadi favoritnya.

Saya pun iseng bertanya padanya, "Kak, buku apa sih yang disukai oleh Kakak?". Dia pun spontan menjawab, "Buku kesukaan Kakak pokoknya yang dibuat dan dibeli di Budhe Aan, Bun". Mbak Aan itu merupakan salah satu teman saya yang aktif menulis buku mengenai kisah-kisah bertema Islam yang dikhususkan untuk kalangan anak-anak. Kebetulan sebagian besar buku-buku untuk Kakak itu adalah karangan Budhe Aan dan membelinya langsung pada sang penulis.

Senin, 12 Juni 2017

Membaca Komik Biografi Hasan Al-Banna

Sore tadi kulihat Kakak asyik membaca buku di ruang tamu rumah kami, ketika ku dekati ternyata dia sedang khusyuk membaca buku mengenai biografi Hasan Al-Banna. Buku yang beberapa bulan lalu saya belikan untuknya karena dian sangat suka sekali membaca buku komik apalagi yang penuh dengan gambar-gambar visual. Dia pernah bilang bahwa dia lebih mengerti membaca seuatu buku apabila dilengkapi oleh gambar-gambar, sepertinya lebih mengena di pikirannya. Namun, saya berharap ke depannya dia pun bisa menyukai membaca buku-buku yang tidak bergambar juga karena di usianya yang akan memasuki 9 tahun ini sudah banyak buku-buku yang minim sekali gambar-gambar, sehingga dia pun terbiasa juga membaca suatu buku tanpa ada gambar visual di dalamnya. Dan ini butuh kerja keras juga bagi kami sebagai orangtuanya untuk bisa mengenalkan dan mau repot membacakan dulu buku-buku tersebut di awal-awal sehingga ke depannya dia pun akan terbiasa melahap buku-buku tersebut.

Saat ini kami lebih memilih menyediakan buku-buku yang bertemakan Islam kepda anak kami karena memang saat ini lingkungan anak-anak kita sudah dikelilingi oleh info-info, tontonan-tontonan, dan acara-acara yang kontennya jauh sekali dari Islam. Kami pun akhirnya menjadi selektif terhadap pilihan dan tontonan dan buku bacaan bagi anak kami. Alhamdulillah responnya pun sangat baik terhadap buku-buku yang bertemakan Islam dan dia pun bisa menceritakan kembali isi dari buku-buku yang ia baca dengan gaya bahasa sederhana. Terkadang pesan moral yang ada dalam buku tersebut bisa dia teladani dalam kehidupan sehari-hari yang mana terkadang kami pun dibuat takjub dengan perubahan sifatnya. Alhamdulillah dengan buku-buku sebagai bahan bacaan yang bergizi dapat membuat anak mengambil ibrah di dalamnya. Sehingga memang kewajiban kita sebagai orangtua adalah memiliki concern yang tinggi terhadap sumber bacaan yang positif bagi perkembangan anak.

Kemudian ketika kami selesai Shalat Isya dan sedang duduk di ruang tamu sembari menikmati hujan deras yang sedang mengguyur Kota Semarang ini. Kakak pun membuka obrolan mengenai Hasan Al-Banna ini dan bercerita bahwa Hasan Al-Banna ini adalah seorang Da'i kelahiran Mahmudiyah, Mesir, pada tanggal 14 Oktober 1906. Sejak masih kecil, Hasan Al-Banna selalu rajin belajar dan beribadah. Di rumah, dia juga membantu ayahnya memperbaiki jam sebagai mata pencahariannya. Sifat berani dan tegasnya sudah muncul ketika dia masih anak-anak. Telah tumbuh keyakinan di dalam dirinya bahwa Allah SWT sajalah yang harus ditakuti.

Minggu, 11 Juni 2017

Buku Paling Fenomenal Bagi Anakku

Hari ini kakak memilih untuk membaca buku dari gen Halilintar yang dia dapatkan ketika bulan lalu kami melakukan safari ke Kota Surabaya. Kebetulan disana kami bertemu dengan "Gen Halilintar" dan melakukan meet and great di acara wisuda matrikulasi IIP Surabaya Raya. Di acara tersebut kami menyempatkan untuk membeli keempat bukunya karya Ibu Lenggogeni yang mana beliau adalah ibu dari para kesebelasan Gen Halilintar. Disamping itu kami pun berkesempatan untuk mendapatkan tanda tangan dari Bapak, Ibu, dan para kesebelasan Gen Halilintar serta berfoto bersama dengan mereka.

Semenjak hari itu, Kakak selalu terlihat membawa serta buku-buku tersebut kemana kami pergi dan beberapa kali terlihat membacanya dan sepertinya sangat excited sekali. Yang saya baca di beberapa bukunya tersebut, isinya sangat menarik dan juga banyak pelajaran serta pengalaman yang bisa diambil dari keluarga besar Gen Halilintar ini. Kekompakannya dalam mewujudkan "My Family My Team" yang membuat saya tertarik untuk membacanya lebih jauh lagi. Bahasa yang digunakan pun bisa dipahami walaupun banyak kalimat-kalimat dalam Bahasa Inggris, namun tetap bisa dipahami dengan jelas.

Positifnya lagi adalah anak kami menjadi lebih mudah untuk bisa diajak kerja sama dan berkoordinasi dalam setiap kegiatan yang kami lakukan bersama dalam keluarga. Lebih perhatian dan sangat pengertian sekali pada kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Alhamdulillah banyak hal positif yang bisa diambil oleh anak kami. Semoga kami bisa memberikan buku-buku yang lebih bergizi lagi kepada keluarga di rumah.